Meski career catfishing memungkinkan Gen Z untuk merebut kembali rasa kekuasaannya, ini juga bisa memiliki konsekuensi jangka panjang.
Misalnya, manajer perekrutan jadi sering menganggap Gen Z lebih sulit untuk diajak bekerja sama dan kurangnya motivasi.
Menurut laporan oleh Resume Builder, persepsi negatif tersebut dapat mempersulit para profesional muda untuk membangun kepercayaan dengan pemberi kerja di masa depan.
Selain itu, dengan lowongan pekerjaan yang menurun dan persaingan meningkat, menolak pekerjaan atau tak muncul di hari pertama bekerja mungkin bisa jadi bumerang.
Menurut Fortune, lulusan angkatan 2025 diperkirakan akan menghadapi kondisi pasar kerja yang lebih sulit, dengan jumlah pencari kerja naik 24% dibandingkan tahun sebelumnya.
Baca Juga: 'Conscious Unbossing', Karyawan Gen Z Ingin Menapaki Karir tetapi Enggan Mengelola Anak Buah
Apa yang bisa dilakukan?
Pada akhirnya, munculnya career catfishing ini sebenarnya adalah tentang masalah sistemik dalam praktik perekrutan.
Komunikasi yang jelas, feedback tepat waktu, serta saling menghormati antara pemberi kerja dan kandidat, sangat penting untuk menjembatani kesenjangan.
Jadi, ini bukan masalah Gen Z semata. Melainkan harus ada kerja sama antara kedua belah pihak menuju interaksi yang lebih transparan dan profesional sehingga bisa memiliki budaya tempat kerja yang lebih sehat. (Elga Windasari)