Para peneliti menyimpulkan, kemungkinan alasannya adalah karena alat bantu AI digunakan sebagai “penopang” pembelajaran, bukan sebagai “mitra berpikir” untuk melengkapi pembelajaran.
Jadi, kuncinya adalah jangan hanya mengandalkan AI semata. Namun, gunakan sebagai kolaborasi antara manusia dan AI yang dapat mendorong hasil pembelajaran secara nyata.
Apakah menggunakan AI membuat lebih bodoh?
“Jika kita hanya menggunakannya untuk mengurangi proses berpikir, maka jawabannya ‘ya’,” kata peneliti AI Michael Gerlich.
Idealnya, orang harus menggunakan alat ini untuk mendapatkan bukti dari hipotesis yang dimiliki dan meminta ChatGPT untuk menghindari bias konfirmasi.
Baca Juga: Waduh, Studi Terbaru Mengungkap bahwa AI Bisa Bikin Kita Makin Bodoh Kalau....
Jadi, saat menggunakan AI, ingatlah bahwa kamu yang berpikir, bukan komputer.
“Alat-alat itu tidak benar-benar berpikir. Mereka memprediksi kata-kata berdasarkan materi yang telah dilatih,” Gerlich mengingatkan.
Dalam penelitiannya, ia menemukan bahwa orang-orang yang paling berisiko kehilangan kemampuan berpikir kritisnya akibat AI generatif adalah mereka yang kurang berpendidikan, anak muda, dan orang-orang yang tidak percaya diri dengan pengetahuan diri sendiri.
Namun, para manajer yang tergoda menggunakan alat bantu AI saat berada di bawah tekanan waktu dan membantu memberikan solusi cepat, juga bisa berisiko.
Kabar baiknya, jika membaca ini dan khawatir apakah ChatGPT membuat otak kamu menjadi bubur, itu tandanya kamu adalah seorang pemikir kritis yang baik. (Elga Windasari)