4. “Nggak apa-apa” atau “It’s okay”
Ungkapan ini bisa menandakan kamu menutupi atau menekan emosi, yang bisa menyebabkan kesalahpahaman. Penekanan emosi, terutama yang kronis, dapat menimbulkan dampak sosial dan psikologis yang signifikan.
Selain itu, penekanan emosi diri dapat berdampak negatif pada cara orang lain memandang diri kamu sehingga lebih sulit untuk membentuk hubungan yang dekat dan saling mendukung.
Baca Juga: Produk Aksesori Kawat asal Mojokterto 'Diamonte' Incar Pasar Global dengan Dukungan BRI
5. “Aku apa saja oke”
Meski terdengar kooperatif, tetapi ketika digunakan terus-menerus kamu hanya akan mengikuti kemauan orang lain. Selain itu, orang juga jadi tidak bisa menghargai keputusan atau pilihan kamu, yang tidak mereka ketahui.
Jika kamu selalu “oke dengan apa pun” kebutuhan kamu pada akhirnya tidak akan terpenuhi.
6. “Aku usahain ya, nggak masalah kok”
Meski terdengar mulia, tetapi frasa ini sering digunakan oleh orang-orang yang mengorbankan dirinya secara berlebihan.
Lain kali, berhenti sejenak dan nilai kebutuhan kamu yang sebenarnya. Kemudian bilang, “Nanti aku cek dulu, ya” dan buat batasan agar kamu memiliki waktu untuk melakukannya.
Baca Juga: Garuda Futsal League Series 3 Jadi Momen BRI Turut Membina Generasi Muda melalui Olahraga
7. “Maaf, ya, aku nyebelin banget”
Frasa ini adalah kalimat untuk menyenangkan orang lain yang dibungkus dengan rasa malu dan mengajarkan orang lain untuk memperlakukan kehadiran kamu sebagai gangguan. Padahal, kamu tidak perlu meminta maaf karena menjadi diri sendiri.
Sebagai gantinya, katakan, “Terima kasih kamu sudah sabar menghadapi aku” atau ”Aku menghargai banget waktu yang kamu luangin waktu buat aku”.