- Manajemen kinerja
AI dapat menyederhanakan proses manajemen kinerja dengan meningkatkan alur proses kerja, mengidentifikasi kesenjangan keterampilan dan kebutuhan pelatihan, serta penyelesaian KPI dan hasil kerja.
Namun, perlu ada obrolan dengan karyawan untuk memberikan feedback yang konstruktif dan mendukung.
Lalu, harus ada diskusi pengembangan karir yang spesifik untuk tujuan dan aspirasi masing-masing karyawan dengan mempertimbangkan inklusivitas.
- Kesejahteraan karyawan
Selama bertahun-tahun, perusahaan telah menekankan efisiensi dan produktivitas melalui proses yang terstruktur dan terstandarisasi.
Namun, karyawan telah membawa lebih banyak kehidupan pribadi ke dalam lingkungan kerja sehingga membutuhkan dukungan dari perusahaan.
Baca Juga: Meski Menggunakan AI Tiap Hari, Ternyata Banyak Karyawan yang Tidak Percaya dengan Hasilnya
Untuk itulah karyawan dapat terbantu dengan menggunakan kombinasi alat dan program AI yang dapat diakses sesuai kebutuhan.
Ini karena AI dapat memberikan wawasan yang berharga tentang kebutuhan karyawan melalui survei keterlibatan dan melacak metrik keterlibatan.
Namun, agar alat bantu ini dapat mengembangkan solusi yang efektif dan inklusif untuk kesejahteraan karyawan di tempat kerja, pengawasan manusia harus disertakan untuk mendapatkan solusi terbaik.
- Meminimalkan bias
Meski AI mengubah banyak industri dan proses, tetapi sistem ini tidak kebal terhadap bias.
AI adalah alat pembelajaran sehingga input dan data yang digunakan untuk melatih alat AI perlu mengatasi hambatan sistemik dan historis.
Sayangnya, contoh dari bias ini sering kali tertanam dalam alat, sistem, dan proses perekrutan.
Alat bantu seleksi algoritma harus didasarkan pada bahasa dan kriteria yang inklusif sehingga kualifikasi tidak mengabaikan orang-orang tertentu.
Jadi, kerja sama antara manusia dan AI dalam proses pengambilan keputusan membantu untuk tetap transparan dan adil untuk semua. ***