"Saya orang yang berorientasi pada peluang. Jika perusahaan saya saat ini menawarkannya, saya akan sangat tertarik. Sayangnya, mereka tidak menawarkannya.
"Saya tahu apa yang sedang saya kerjakan dan meskipun pasti menyenangkan kalau hal itu bisa terjadi di tempat kerja saya sekarang, tapi saya juga terbuka untuk menjajaki perusahaan lain yang memungkinkan."
Baca Juga: Jakarta Fair 2025 Resmi Dibuka, Cek di Sini Jam Buka dan Harga Tiketnya
Namun, jika alasan kamu lebih berkaitan dengan faktor pribadi, tidak masalah untuk mengakui hal tersebut jika memang diperlukan.
Jawaban yang Talotta sarankan seperti ini:
“Saya kan ibu bekerja. Cara saya melakukan pendekatan terhadap pekerjaan 10 tahun yang lalu dan cara saya melakukannya sekarang pasti sangat berbeda.
"Saya rasa pekerjaan saat ini sudah tidak cocok dengan pendekatan kerja saya sekarang. Karena itu, saya mencari perusahaan yang bisa memberikan hal tersebut pada saya.”
Menurut Talotta, tidak masalah kalau orang lain tahu sedikit hal pribadi yang membuat kamu ingin pindah kerja.
Menyeimbangkan harapan profesional dengan situasi pribadi justru bisa membuat jawaban kamu terasa tulus dan mudah dipahami. Itulah yang menjadi tujuannya.
Bagaimana jika kamu terlalu banyak bicara saat wawancara kerja?
Baca Juga: TRANS TV Buka Lowongan Kerja Copywriter: Wujudkan Kreativitasmu di Dunia Media
Jika kamu memiliki frustrasi atau pengalaman negatif dengan pekerjaan saat ini, lalu tidak sengaja menyebutkannya dalam jawaban, Talotta merekomendasikan untuk mengambil jeda dan menarik napas dalam-dalam.
Misalnya, jika kamu tidak sengaja menyebut tentang atasan yang toxic, kamu bisa mengalihkan pembicaraan dengan bilang, “Saya menghargai usahanya, tetapi saya memprioritaskan pertumbuhan dan tujuan profesional saya.”
Jadi, kunci memberi alasan resign yang baik adalah mengarahkan respons kembali ke tujuan kamu, dan bagaimana hal itu selaras dengan posisi baru yang potensial ini.