Kalau terlalu lama sendiri tanpa dukungan sosial, kamu bisa merasa terisolasi dan itu bisa menimbulkan emosi negatif seperti sedih atau marah.
- Kebebasan yang berujung stres
Meski kebebasan mengatur waktu kerja itu menyenangkan, nyatanya tidak semua orang bisa nyaman dengan hal itu.
Tidak ada batas waktu yang jelas, sulitnya menyelaraskan kerja tim, dan tanggung jawab mengatur semuanya sendiri bisa menimbulkan tekanan tersendiri.
- Teknologi yang kadang menyebalkan
Koordinasi lewat Zoom, Slack, atau email memang praktis, tetapi juga bisa bikin frustrasi. Apalagi kalau koneksi buruk, pesan tidak dibalas, atau peralatan tidak lengkap.
Pekerja di kantor biasanya punya akses langsung ke berbagai sumber daya yang belum tentu dimiliki oleh mereka yang kerja dari rumah.
Baca Juga: Tren Pekerja Yang Memilih Untuk WFH atau Remote Working Meningkat. Ini Kendala Dan Solusinya!
Perusahaan penting mengetahui fakta ini
Kesejahteraan karyawan ternyata punya dampak langsung ke kinerja perusahaan. Ini karena pekerja yang merasa stres atau tidak bahagia cenderung mencari pekerjaan baru.
Data menunjukkan bahwa 57% pekerja full WFH masih mencari peluang kerja lain, baik aktif atau pasif.
Namun, jika mereka merasa terlibat dan berkembang di pekerjaan sekarang, angka ini turun drastis jadi 38%.
Jadi, penting bagi perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara fleksibilitas kerja dan kesejahteraan mental karyawannya.
Selain dengan memberikan keleluasaan dalam bekerja, perusahaan juga bisa menciptakan ruang untuk interaksi sosial.
Misalnya dengan membuat pertemuan virtual rutin, sesi santai online, atau bahkan kesempatan berkumpul secara langsung sesekali.
Pada akhirnya, kerja dari rumah memang memberi banyak keuntungan, tetapi tetap perlu perhatian agar tidak berubah jadi tekanan yang menggerogoti semangat dan kesehatan mental. ***