Tanpa itu, susah untuk tahu apakah pekerjaan sudah di jalur yang benar hingga bagaimana caranya dapat promosi.
Apakah quiet quitting menular?
Quiet quitting ini ternyata menular. Dalam survei, mahasiswa laki-laki mengatakan kalau mereka lebih cenderung ikut-ikutan kalau melihat atasannya kerja ogah-ogahan.
Salah satu mahasiswa bilang, “Kalau bos saya kelihatan nggak niat kerja, saya jadi nggak semangat juga. Saya jadi mikir, kenapa saya harus repot-repot?”
Artinya, atasan yang diam-diam quiet quitting bisa menciptakan efek domino. Satu orang malas, membuat yang lain ikut malas.
Padahal, pemimpin seharusnya jadi panutan yang bisa membangun semangat kerja tim.
Apa solusinya?
Ada dua langkah penting yang bisa diambil perusahaan:
- Tugaskan mentor untuk karyawan baru
Mentor bisa jadi tempat curhat sekaligus pembimbing bagi karyawan muda.
Walaupun mentor mungkin bukan atasan langsung, mereka tetap bisa memberi arahan dan menyuarakan keluhan ke manajemen.
- Bikin ruang diskusi yang aman
HR harus aktif membuat komunitas atau kelompok diskusi tempat karyawan muda bisa berbagi pengalaman tanpa takut dihakimi.
Jangan berharap manajer pasif bisa mengatasi masalah ini sendirian karena mereka bisa jadi bagian dari masalahnya.
Jadi, karena quiet quitting di kalangan atasan bukan hal baru dan sekarang lebih sering terjadi, perusahaan perlu waspada.
Jangan sampai sikap diam-diam ini jadi virus yang menyebar dan membuat seluruh tim kehilangan semangat. ***