Ketika Atasan Melakukan "Quiet Quitting", Apa Dampaknya untuk Kamu sebagai Anak Buahnya?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 22 Juli 2025 | 12:05 WIB
Ketika pimpinan melakukan quiet quitting, efeknya menjadi domino. (Google Gemini)
Ketika pimpinan melakukan quiet quitting, efeknya menjadi domino. (Google Gemini)

Pejuangkantoran.com - Kamu mungkin sudah pernah dengar tentang quiet quitting alias “berhenti secara diam-diam”. Ini adalah tren karyawan yang cuma kerja sebatas jobdesc, tanpa usaha ekstra.

Namun, bagaimana kalau justru atasan kamu yang justru quiet quitting?

Jarang dibahas, tetapi ternyata dampaknya bisa serius, apalagi dampaknya terhadap karyawan muda yang sedang butuh bimbingan.

Pakar SDM Kyra Leigh Sutton, Ph.D. melakukan survei ke 121 mahasiswa S1 di School of Management and Labor Relations, Rutgers University.

Mereka rata-rata punya pengalaman kerja, baik paruh waktu atau penuh waktu, di tempat-tempat seperti bank, rumah sakit, perusahaan telekomunikasi, hingga organisasi nirlaba.

Hasilnya? Sebanyak 53% mahasiswa mengatakan pernah melihat langsung atasan mereka quiet quitting. Tanda-tanda yang paling sering muncul adalah:

  • Pekerjaan jadi makin sedikit;
  • Sering pulang lebih awal;
  • Balas chat atau email super lama, bahkan tidak dibalas sama sekali.

Salah satu mahasiswa bilang, “Bos saya jarang ikut rapat, jarang ada di kantor, dan butuh waktu dua hari untuk jawab pesan di Microsoft Teams. Itu pun kalau dijawab.”

Baca Juga: Sering Disebut Pekerja Keras, Ternyata Pekerja Jepang Peringkat Pertama Paling Banyak Quiet Quitting!

Rasanya punya atasan quiet quitting

Mayoritas mahasiswa yang pernah memiliki atasan quiet quitting menyampaikan, bahwa mereka merasa diabaikan dan kurang dilibatkan dalam pekerjaan.

Bahkan diantara yang belum pernah mengalaminnya, 47% mengaku khawatir kalau-kalau nanti mengalami hal serupa.

Menariknya, ada perbedaan pendapat berdasarkan gender. Mahasiswa perempuan lebih khawatir soal kurangnya feedback kalau punya atasan yang tidak aktif.

Ini karena studi sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan di tempat kerja memang cenderung lebih jarang menerima feedback yang jelas dan membangun.

Jadi, kalau bosnya pasif, makin kecil kemungkinan mereka bisa berkembang. Padahal, untuk karyawan yang baru mulai kerja, feedback itu sangat penting.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X