Ada beberapa penyebab umumnya, yaitu:
- Takut dinilai buruk. Banyak orang khawatir terlihat lemah kalau mengakui sedang stres.
- Didikan sejak kecil. Diajarkan untuk selalu sopan, positif, dan “jangan bikin ribut”.
- Budaya kantor. Beberapa perusahaan mengutamakan “positivity” dan menghindari pembicaraan soal masalah.
Studi Harvard Business Review bahkan menyebutkan bahwa 58% karyawan merasa tidak bisa membicarakan kesehatan mental di kantor tanpa takut konsekuensi.
Cara lepas dari pleasanteeism
Kabar baiknya, ini bukan kebiasaan yang tidak bisa diubah. Ada beberapa langkah kecil, tetapi berarti yang bisa kamu lakukan.
- Latih kejujuran emosional
Kamu tak harus curhat panjang, tetapi boleh jujur soal kondisi diri. Misalnya dengan bilang, “Aku capek hari ini, rapatnya padat banget.”
Mengatakan kalimat seperti ini justru membuat suasana kerja lebih manusiawi.
- Tetapkan batas energi
Sadari kapan harus “gaskeun” dan kapan bisa rileks. Simpan energi kamu untuk momen penting dan jangan terus dikeluarkan.
- Berani tunjukkan kerentanan
Saat membuat kesalahan, akui dan jelaskan solusinya. Ingat, profesionalisme bukan berarti kamu harus sempurna. Manusia tempatnya salah, bukan?
- Ubah cara pandang profesionalisme
Profesional itu bukan berarti selalu happy face.
Agar mood satu orang tidak memengaruhi semua orang, kamu bisa memulai meeting dengan mengecek suasana hati tim semua orang untuk memastikannya.
- Lawan dengan cara halus
Kalau ada yang terlalu memaksa untuk selalu bersikap positif, balas dengan mengatakan:
“Saya hargai optimisme kamu, tapi saya sedang fokus menyelesaikan tantangan ini.”