kubikel

Pasar Kerja Lagi Sulit: PHK Naik, Gaji Malah Turun. Pekerja Harus Lamar Ratusan Pekerjaan!

Rabu, 20 Agustus 2025 | 19:26 WIB
Ilustrasi: Apa alasan perusahaan melakukan remote layoff atau PHK jarak jauh akhir-akhir ini? (Freepik/Drazen Zigic)

Bagaimana dengan Indonesia? 

Menurut laporan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) yang berjudul LPEM Economic Experts Survey Semester I 2025, seperti yang dikutip databoks.katadata.co.id., kondisi pasar tenaga kerja Indonesia memburuk pada awal tahun 2025 ini.

Februari 2025 LPEM menyurvei 42 orang ahli ekonomi dari berbagai latar belakang. Para responden ini mewakili perspektif domestik (Jawa Barat, Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah) dan internasional (Australia, Inggris, dan Amerika Serikat).

Dari hasil surveinya, sebanyak 19 orang ahli menilai kondisi pasar tenaga kerja Indonesia awal 2025 lebih buruk dari tiga bulan sebelumnya, dan 9 orang menilai jauh lebih buruk. Gabungan keduanya, mencapai 67% dari total responden ahli ini.

Mereka menyatakan bahwa pasar tenaga kerja saat ini makin memburuk yang menunjukkan rendahnya lowongan kerja yang tersedia bagi masyarakat.

Di sisi lain ada 13 ahli yang menganggap kondisi pasar tenaga kerja saat ini tak mengalami perubahan dari periode sebelumnya. Sedangkan hanya ada 1 ahli yang menilai lebih baik.

Baca Juga: Job Fest 2025 Hadir Lagi, Gubernur DKI Minta Pelatihan Bahasa Asing untuk Penuhi Pasar Kerja Luar Negeri

Sementara itu dalam laporan Zety, terungkap  juga bahwa beberapa hambatan yang bikin pencarian kerja makin sulit:

  • Deskripsi pekerjaan yang kurang jelas.
  • Proses rekrutmen yang lambat.
  • Persaingan makin ketat.
  • Kandidat sering “menghilang” atau ghosted di tengah proses seleksi.
  • Perusahaan menawarkan gaji yang lebih rendah dari standar.

“Sekarang posisi perusahaan lebih kuat, jadi mereka bisa menekan gaji,” jelas Escalera.

Sedangkan di Indonesia, menurut LPEM FEB UI pada Maret 2025, 67% ekonom menilai pasar kerja memburuk awal 2025. Ini artinya pencari kerja harus menghadapi lowongan yang terbatas sementara jumlah pencari kerja terus bertambah.

Sementara menurut Financial Times (Agustus 2025), Indonesia mengalami premature deindustrialisation. Kontribusi manufaktur ke PDB turun dari 32% (2002) jadi 19% (2024), banyak PHK besar terjadi.

Hal ini menyebabkan tantangannya berupa pekerja baru sulit masuk sektor industri formal, sehingga pencari kerja harus siap masuk sektor jasa atau informal.

Secara umum, kondisi di luar maupun dalam begeri Indonesia ini mengkibatkan banyak pekerja terpaksa mengandalkan tabungan, kartu kredit, bahkan bantuan pemerintah untuk bertahan hidup.

Tips untuk para pencari kerja

Walaupun situasinya sulit, ada beberapa hal yang bisa dilakukan pencari kerja supaya tetap punya peluang:

Halaman:

Tags

Terkini