Posisi kamu dalam perjalanan karier sangat menentukan. Kalau kamu berada di fase akhir karier dan berencana pensiun dalam tiga sampai lima tahun ke depan, voluntary resignation program bisa jadi pilihan masuk akal karena ruang pertumbuhan karier dan finansial sudah lebih terbatas.
Sebaliknya, kalau keahlian kamu sedang sangat dibutuhkan di pasar, buyout bisa menjadi tiket untuk pindah ke tempat yang lebih baik.
Baca Juga: 2 Hal yang Harus Kamu Pertimbangkan sebelum Memutuskan Resign dan Buka Usaha Sendiri
Jaringan profesional juga berperan penting. Apakah relasi kamu cukup kuat untuk membantu mendapatkan posisi baru, bahkan yang lebih senior?
Kesejahteraan emosional
Nah, ini bagian yang sering terasa abu-abu. Bagi banyak orang, pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga identitas. Kehilangan peran, jabatan, dan rutinitas bisa membuat kamu merasa tidak bermakna.
Di sisi lain, buyout juga bisa menjadi titik balik untuk menata ulang hidup, memperkuat hubungan keluarga, atau mengejar minat yang selama ini tertunda.
Tetapi, kalau kamu sedang menghadapi tekanan emosional lain, misalnya masalah keluarga atau perubahan besar dalam hidup, pindah kerja atau menganggur sementara pasti bakal terasa berat buat kamu.
Baca Juga: Berhenti Kerja Karena Alasan Keluarga, Ini Tips Menulis Surat Resign yang Tetap Profesional
Kalau setelah mempertimbangkan tiga hal di atas kamu merasa pengunduran diri sukarela adalah langkah tepat, lakukan dengan cermat.
Pelajari detailnya, ngobrol sama teman-teman yang punya pengalaman yang sama, dan pahami kapan manfaat seperti asuransi kesehatan akan berakhir. Jangan ragu bernegosiasi, terutama kalau perusahaan sangat ingin mempercepat pengurangan karyawan.
Yang terakhir, nggak usah malu. Di dunia kerja, cerita tentang voluntary resignation program bukan aib kok. Jika paket pesangon cocok dengan dengan kondisi dan tujuan hidup kamu saat ini, kenapa enggak?