Pandangan serupa datang dari Margaret Buj, Principal Recruiter di Mixmax dan LinkedIn “Top Voice”. Meski aktif menggunakan platform ini, Buj mengakui bahwa paparan kesuksesan yang terus-menerus dari orang lain bisa membuat kita meragukan diri sendiri.
Kita juga rentan mengalami impostor syndrome (fenomena psikologis di mana orang meragukan kemampuannya), hingga burnout, terutama pada pekerja muda.
Namun, tidak semua pihak sepakat bahwa LinkedIn selalu berdampak negatif. Catherine Fisher, pakar karier internal LinkedIn, menilai Gen Z justru lebih sadar akan bahaya doom scrolling (keinginan untuk terus-menerus menggulir konten-konten negatif).
Baca Juga: Michelle Ziudith Kapok Main Film Horor Kelar Main di Film Horor Pertamanya, 'Alas Roban'
“Generasi Z tahu bahwa 'doom scrolling' itu sesuatu yang ingin mereka hindari,” ujarnya.
Banyak dari mereka menggunakan LinkedIn secara lebih selektif, misalnya dengan mengikuti akun yang inspiratif, memperbarui keterampilan, dan memperluas jaringan.
Tidak seperti orang di Facebook yang sering memamerkan foto-foto keluarga, atau Instagram yang dipenuhi foto-foto nge-gym, lari, liburan, atau kulineran, LinkedIn menyentuh titik yang paling menyakitkan: pekerjaan orang lain.
“Perbandingan profesional itu lebih mendalam karena menyentuh nilai-nilai inti: akuntabilitas, etos kerja, kreativitas, itu hal-hal yang dibanggakan orang,” jelas Lovell.
Ketika melihat orang lain naik jabatan, kita bukan hanya iri, tapi malah jadi ikut mempertanyakan nilai diri dan kompetensi kita.
Meski begitu, LinkedIn tetap punya sisi positif, karena bagaimanapun pasti kisah-kisah keberhasilan dalam karier bisa menginspirasi atau memotivasi orang lain.
Baca Juga: OpenAI Luncurkan ChatGPT Health, Dorong Pengguna untuk Menghubungkan Rekam Medis Mereka
Saat menghadapi LinkedIn envy, Fisher menyarankan langkah sederhana: sembunyikan konten yang memicu emosi negatif dan ikuti akun yang menawarkan saran-saran yang membantu, obrolan dan inspirasi nyata yang betul-betul bisa kita gunakan.
“Cuplikan momen terbaik orang lain jangan sampai mengurangi nilai kemajuan kita. Karier itu bukan perlombaan, melainkan jalan pribadi,” tukas Buj.
Jadi, coba maknai pencapaian karier orang lain yang diumumkan di LinkedIn dengan cara berbeda. Sedikit mengubah perspektif bisa membuat pengalaman scroll karier terasa lebih sehat dan membumi.