PejuangKantoran.com - “I’m happy to share that I’m starting a new position as Director of Client Services at PT Bla Bla Bla...."
Bagaimana perasaan kamu ketika membaca pengumuman penuh kebanggaan seperti itu dari salah satu teman atau kenalan kamu di LinkedIn? Minder, cemburu, nggak percaya diri, atau jadi terpacu untuk bekerja lebih baik lagi?
Jawaban paling umum dari pertanyaan itu pasti minder atau cemburu. Banyak yang merasakan hal ini, meskipun ada juga yang merasa lebih termotivasi.
Baca Juga: 6 Cara Menghadapi Stres yang Salah, yang Kemungkinan Besar Bikin Kamu Sulit Naik Jabatan
Dalam sebuah diskusi di Reddit ada pertanyaan, “Apa sesuatu yang hampir semua orang jelas-jelas sering berpura-pura, tetapi tidak ada yang mau mengakuinya?".
Nah, salah satu jawaban yang paling banyak diamini adalah: LinkedIn. Dari situ, lahirlah istilah yang kini sering dibicarakan, yaitu “LinkedIn envy.”
Apa itu LinkedIn envy?
Kalau pengumuman tentang pencapaian karier seperti di atas datang dari sahabat dekat, reaksi kita biasanya, “Wow… hebat, kariernya cepet banget naiknya!”
Namun bagi yang tidak terlalu dekat, pengumuman akan pencapaian itu mungkin dianggap sebagai bagian dari budaya pamer prestasi di LinkedIn.
“Mantap! Selamat ya, Bu!” mungkin begitu kata salah satu koneksinya, walaupun dalam hati menangis karena nasibnya tak semujur itu.
Nggak heran ada yang menyebut LinkedIn sebagai tempat orang ngumpul buat saling memuji secara berlebihan. Intinya sama: platform ini dianggap berubah dari tempat berjejaring menjadi etalase pencitraan karier.
Baca Juga: Perlukah Chief Productivity Officer, Jabatan Baru yang Menggabungkan HR dan IT dalam Manajemen HR?
Lalu, apa sebenarnya LinkedIn envy?
Istilah ini merujuk pada perasaan tidak nyaman, minder, bahkan cemas saat melihat linimasa LinkedIn yang dipenuhi promosi jabatan, penghargaan, dan pencapaian karier orang lain. Kita jadi merasa tertinggal, seolah karier kita tidak berkembang seperti seharusnya.
Alex Lovell, Research Director di O.C. Tanner, melihat fenomena ini cukup serius, terutama pada Gen Z dan milenial. Menurutnya, LinkedIn kini diperlakukan seperti papan skor kesuksesan yang tanpa sadar kita gunakan untuk menilai diri sendiri, bukan untuk ikut merayakan keberhasilan orang lain.
Artikel Terkait
Konflik Politik Makin Tegang dengan Amerika Serikat, Toyota Minta Karyawannya di Venezuela WFH Sementara
Pengembang Properti PT Hatten Bali Tbk Membuka Lowongan Kerja Brand Activation
Ketika Ada yang Sakit Namun tetap Hadir di Kantor atau Online, Waspada Karena Presenteeism Ini Berdampak Buruk!
IHSG Naik, Tapi Belum Merata: Ini Peluang Saham Fundamental di 2026
Coca-Cola Umumkan PHK 75 Pegawai di Atlanta, Berlaku Februari 2026
Halo Para Manajer, Presenteeism Bukan Malas! Ini Cara Mengenali, Mendiagnosis, Mengatasi, dan Mencegahnya!
8 Poin Penting Sebagai Panduan Dalam Mencuci Sepatu Larimu Agar Tetap Awet dan Terjaga Performanya