PejuangKantoran.com - Sebuah cerita viral dari dunia kerja global kembali membuka diskusi lama yang masih relevan hingga hari ini: apakah profesionalisme selalu harus dibayar dengan waktu pribadi? Seorang karyawan asal Belanda di sebuah perusahaan teknologi Amerika Serikat menjawabnya dengan tegas, dan sah secara hukum.
Karyawan tersebut menjelaskan kepada atasannya bahwa ia selesai bekerja pukul 5 sore, tidak membalas email di akhir pekan, serta menolak rapat di luar jam kerja. Bukan karena kurang dedikasi, melainkan karena di Belanda, kebiasaan itu dilindungi undang-undang ketenagakerjaan.
Awalnya, penjelasan tersebut justru berujung tekanan. Sang manajer mempertanyakan loyalitasnya dan mengancam evaluasi kinerja. Namun saat kasus ini dibawa ke HR Belanda, situasinya berbalik. HR mengingatkan bahwa memaksa karyawan untuk tetap “siaga” di luar jam kerja melanggar aturan lokal. Sejak itu, batas kerja pun dihormati.
Baca Juga: Bagi Para Manajer atau Pimpinan Begini Cara Indikasi Awal Ada Tidaknya Presenteeism di Dalam Tim
Cerita ini viral bukan tanpa alasan. Ia menyingkap perbedaan tajam antara budaya hustle ala Amerika, yang sering mengglorifikasi kerja tanpa batas waktu, dengan pendekatan Eropa yang memandang keseimbangan hidup sebagai bagian dari produktivitas.
Lalu, Bagaimana dengan Pekerja Indonesia?
Bagi banyak pekerja di Indonesia, kisah ini terasa seperti realitas yang jauh sekaligus dekat. Budaya lembur dianggap loyal, membalas chat kantor di malam hari dinilai “sigap”, dan cuti sering kali diiringi rasa bersalah. Tidak sedikit pekerja yang tetap online meski jam kerja sudah lewat, sekadar demi citra profesional.
Padahal, Undang-Undang Ketenagakerjaan Indonesia juga mengatur jam kerja, lembur, dan hak istirahat. Masalahnya, budaya kerja sering kali berjalan lebih kuat daripada aturan tertulis. Batas antara kerja dan hidup pribadi menjadi kabur, terutama di era kerja digital yang serba instan.
Baca Juga: Gara-gara Mens Rea, Istri Pandji Pragiwaksono Kecam Anak-anaknya Dibully Netizen
Kisah karyawan Belanda ini menjadi pengingat penting: bekerja dengan batas bukan berarti tidak berkomitmen. Justru, menjaga waktu pribadi membantu pekerja tetap sehat, fokus, dan produktif dalam jangka panjang.
Mungkin Indonesia belum sepenuhnya sampai pada titik di mana “tidak membalas email malam hari” dianggap normal. Namun diskusi seperti ini membuka ruang refleksi: apakah sudah waktunya kita mulai menghargai jam pulang, akhir pekan, dan waktu bersama keluarga sebagai bagian sah dari kehidupan pekerja?
Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya soal target, KPI, dan notifikasi kantor. Dan bekerja dengan sehat bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan.