2. Lakukan job crafting secara aktif
Jika organisasi tidak menyediakan peran yang pas:
- Ambil inisiatif proyek kecil, proaktif mengajukan diri untuk mengambil peran di dalamnya berdasarkan kualifikasi/kompetensi kamu dalam project management.
- Perbaiki proses kerja, kamu bisa memanfaatkan ketermapilan problem solving kamu untuk memperbaiki proses kerja yang belum efektif dan efisien.
- Bantu atasan dalam analisis atau perencanaan dengan kemampuan project management kamu.
Ini mengubah persepsi dari “karyawan berlebih” menjadi “aset potensial”.
3. Bangun career narrative yang koheren
Masalah umum overqualification di Indonesia adalah CV terlihat “tinggi tapi tidak fokus”.
Solusi:
- jelaskan logika pilihan karier;
- tekankan kontribusi, bukan jabatan;
- tunjukkan konsistensi kompetensi, bukan loncat gelar.
Baca Juga: Jenuh dengan Pekerjaan Sekarang? Solusinya adalah Pivot dengan Tetap Memerhatikan Hal-hal Berikut!
4. Pertimbangkan lateral move atau adjacent pivot
Naik jabatan tidak selalu vertikal.
- pindah fungsi yang relevan;
- masuk peran yang membuka ruang belajar dan exposure;
- cari organisasi dengan job design lebih matang.
5. Pasang exit strategy yang realistis
Menurut Kerangka Career Capital (Michael B. Arthur dan Denise Rousseau, 1996), jika dalam 12–24 bulan:
- tidak ada peningkatan tanggung jawab;
- tidak ada pengembangan skill;
- tidak ada kejelasan karier;
maka overqualification akan menjadi jebakan jangka panjang. Pertimbangkan untuk melakuan pivot karier (pndah karier/kerja) dengan perencanaan yang matang. ***