Jangan Putus Asa Kalau Kamu Termasuk Pekerja Overqualified, Berikut 5 Hal yang Harus Kamu Lakukan!

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Selasa, 13 Januari 2026 | 14:15 WIB
Menjadi pekerja overqualified jangan putus asa, lakukan sejumlah hal yang membuatmu bisa menjadi aset perusahaan yang dibutuhkan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Menjadi pekerja overqualified jangan putus asa, lakukan sejumlah hal yang membuatmu bisa menjadi aset perusahaan yang dibutuhkan. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com – Salah satu permasalahan yang cukup banyak dihadapi tenaga kerja di Indonesia saat ini adalah mismatch, terutama skill mismatch. Ini adalah adanya ketidaksesuaian antara karakteristik individu dan tuntutan atau konteks pekerjaan.

Ketidaksesuaian ini dapat terjadi pada berbagai level dan berdampak langsung pada kinerja, kepuasan kerja, serta keberlanjutan organisasi.

Skill mismatch terjadi ketika keterampilan karyawan tidak sesuai dengan kebutuhan pekerjaan. Ini ada dua macam, yaitu:

  1. Underqualified: kompetensi lebih rendah dari tuntutan peran.
  2. Overqualified: kompetensi jauh melebihi tuntutan pekerjaan.

Menurut data BPS yang dipublikasikan oleh GoodStats.id, dari 35,36 persen tenaga kerja yang mismatch, 22,36 persen overqualified. Artinya, mereka yang bekerja dengan underskilling (pekerjaan dengan kualifikasi di bawah kompetensi).

Misal, lulusan S1 bahkan S2 (ekonomi, manajemen, komunikasi, bahkan teknik) melakukan pekerjaan seperti input data, pengarsipan, surat-menyurat, dan pekerjaan rutin yang berulang. Pekerjaan-pekerjaan ini sebenarnya dapat dilakukan oleh lulusan setara SMA/SMK/D3.

Baca Juga: Pekerja Freelance Waspadai Blurred Boundary yang Bisa Sebabkan Tubuh Berhenti Kerja Namun Pikiran Tetap Kerja

Dalam pekerjaan seperti ini, kapasitas analitis dan konseptual dari lulusan S1/S2 menjadi tidak terpakai.

Apabila ada pekerja overqualified, maka tidak boleh dibiarkan. Risiko utama jika tidak ditangani adalah:

  • Deskilling (kompetensi tinggi tidak terpakai);
  • Upah stagnan dan wage penalty;
  • Demotivasi, presenteeism, quiet quitting;
  • Karier “mentok” meski pengalaman bertambah.

Pekerja overqualified bukan sepenuhnya kesalahan pekerja. Permasalahan mismatch muncul karena permasalahan sistemik, ada ketidak terpaduan sistem pendidikan dengan pasar kerja.

Namun, kamu sebagai individu yang menjadi pekerja mismatch, juga tidak boleh tinggal diam. Ada sejumlah hal yang bisa kamu lakukan secara proaktif, yaitu:

Baca Juga: Halo Para Manajer, Presenteeism Bukan Malas! Ini Cara Mengenali, Mendiagnosis, Mengatasi, dan Mencegahnya!

1. Hentikan fokus pada gelar, perkuat transferable skills

Gelar sudah tidak lagi menjadi pembeda. Fokus pada:

  • problem solving;
  • analytical thinking;
  • komunikasi strategis;
  • data dan digital literacy;
  • project management dasar.

Dengan meningkatkan skill atau keterampilan tersebut, bisa membuat nilai tambah yang terlihat, bukan sekadar latar pendidikan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: bps.go.id, Berbagai Sumber, goodstats.id, journals.kemnaker.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X