Mereka juga piawai menggunakan jeda-jeda singkat di tengah diskusi untuk mengubah dinamika ruangan. Saat akhirnya bicara, biasanya mereka memulai dengan kalimat pembingkai.
Misalnya, “Saya mau pastikan dulu saya menangkapnya dengan benar,” atau “Sebelum kita ambil keputusan, ada satu hal yang ingin saya pahami sebentar.” Kalimat-kalimat ini bukan tanda ragu, melainkan tanda kehati-hatian.
Quiet leadership sebenarnya tidak hanya dimiliki oleh mereka yang introvert. Siapa pun bisa melatihnya dengan cara ini:
• Membiasakan diri untuk mendengar tanpa buru-buru menjawab.
• Memberi ruang untuk berpikir, bukan sekadar bereaksi.
• Membangun budaya aman, di mana semua orang tahu pendapat mereka dihargai.
• Melatih kesadaran diri agar emosi tidak mengambil alih.
Baca Juga: Menkes Ungkap Perkiraan 28 Juta Penduduk Indonesia Alami Masalah Kejiwaan
Masalahnya, sikap tenang kerap disalahartikan. Terutama bagi pemimpin baru atau yang belum punya jabatan tinggi.
“Sebaiknya, miliki sudut pandang dan tunjukkan lewat tindakan. Kemampuan itu terlihat dari cara kamu mengambil keputusan, menetapkan batasan, dan membangun kebiasaan,” kata Lael Barry, pendiri Ecolux Goods. “Suaramu paling berarti saat didukung konsistensi, bukan volume.”
Ia juga berbagi pengalaman saat diamnya dianggap lemah. Menahan diri untuk tidak merespons secara publik memang butuh tenaga mental. Namun hasilnya justru menyelesaikan masalah lebih cepat dan menguntungkan semua pihak.