PejuangKantoran.com - Fenomena memiliki lebih dari satu pekerjaan kini semakin umum di Indonesia. Bukan karena ambisi atau gaya hidup produktif, tetapi karena satu sumber penghasilan saja tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Data terbaru menunjukkan sekitar 19,3 juta pekerja Indonesia memiliki pekerjaan sampingan. Kondisi ini muncul sebagai respons langsung terhadap tekanan ekonomi yang semakin terasa, terutama di tengah kenaikan biaya hidup.
Salah satu akar masalahnya terletak pada ketimpangan antara upah dan kebutuhan hidup layak. Upah Minimum Provinsi (UMP) di 32 dari 38 provinsi masih berada di bawah standar Kebutuhan Hidup Layak (KHL). Bahkan wilayah seperti Jakarta pun tidak luput dari kondisi ini.
Selisih paling besar justru terjadi di beberapa daerah seperti Yogyakarta, Bali, hingga Jawa Barat. Artinya, meskipun seseorang bekerja penuh waktu, pendapatan yang diterima belum mampu menutup kebutuhan dasar secara optimal.
Fenomena ini paling terasa di wilayah perkotaan. Dari total pekerja yang memiliki penghasilan tambahan, sekitar 11,5 juta orang tinggal di kota besar.
Hal ini tidak mengherankan. Biaya hidup di kota, mulai dari sewa tempat tinggal hingga kebutuhan sehari-hari, jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Tekanan inilah yang mendorong banyak pekerja mencari sumber pendapatan tambahan.
Bukan Pilihan, Tapi Kebutuhan
Menurut riset dari LPEM FEB UI, tren ini bukan sekadar pilihan gaya hidup atau keinginan untuk lebih produktif. Memiliki pekerjaan sampingan adalah bentuk adaptasi terhadap pendapatan utama yang belum memadai.
Temuan ini diperkuat oleh studi KIMCI pada April 2026 yang mencatat bahwa 46,3% pekerja kelas menengah kini mengandalkan lebih dari satu sumber penghasilan. Artinya, kerja sampingan telah bergeser dari opsi menjadi kebutuhan.
Baca Juga: Jakarta Jadi Tuan Rumah Global Tour “Mortal Kombat II”, Hadirkan Deretan Bintang Internasional
Dari Side Hustle ke Survival Mode
Istilah “side hustle” yang dulu identik dengan pengembangan diri atau mengejar passion kini berubah makna. Bagi banyak pekerja Indonesia, pekerjaan tambahan bukan lagi soal pilihan, melainkan strategi bertahan.
Kondisi ini juga mencerminkan tekanan yang lebih luas pada kelas menengah. Untuk menjaga stabilitas keuangan, banyak orang harus bekerja lebih keras dan lebih lama, sering kali tanpa jaminan peningkatan kesejahteraan yang signifikan.