PejuangKantoran.com - Kamu termasuk karyawan yang selepas jam kerja maunya buru-buru pulang, atau nongkrong-nongkrong dengan rekan kerja atau atasan untuk membahas kerjaan (meski dalam situasi yang lebih santai)?
Sepertinya, lebih banyak yang mau langsung pulang ke rumah, ya. Data pun menunjukkan, cuma 20% karyawan di seluruh dunia yang merasa benar-benar punya ikatan dengan pekerjaannya. Sisanya sekadar menunjukkan kalau sudah hadir saja.
Ini bukan sekadar masalah perasaan, karena dampaknya buat perusahaan benar-benar nyata. Tim yang antusias terbukti lebih produktif, lebih menguntungkan, dan jarang bolos.
Rahasia di balik kemauan karyawan untuk terlibat ini ada pada sosok manajer. Kok gitu?
Baca Juga: Mengapa Sitha Marino Pilih Film Horor 'Kamu Harus Mati' sebagai Debut Aktingnya di Layar Lebar?
Banyak orang mengira fasilitas kantor, gaji tinggi, atau budaya perusahaan adalah penentu semangat kerja. Padahal, menurut riset, 70% dari semangat tim itu dipengaruhi langsung oleh manajer mereka.
Singkatnya, siapa atasan kamu adalah faktor paling menentukan apakah kamu bakal menikmati pekerjaan atau justru ingin segera resign.
Sayangnya, saat ini kita sedang menghadapi masalah besar. Laporan Gallup State of the Global Workplace 2026 menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, di mana keterlibatan manajer justru merosot tajam.
Dalam dua tahun terakhir, tingkat keterlibatan manajer jatuh sembilan poin.
Baca Juga: Doomjobbing Malah Cikin Mental Capek, Segera Cari Tahu Cara Berhenti dari Kebiasaan Ini!
Manajer ikut kelelahan
Jadi manajer itu berat. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin tinggi pula tingkat stres, rasa kesepian, dan kesedihan yang mereka tanggung setiap harinya.
Ketika manajer kehilangan antusiasme, mereka nggak mungkin bisa memotivasi timnya. Masalah utamanya bukan ada pada sektor industri atau ukuran perusahaan, melainkan pada struktur organisasi yang membingungkan.
Banyak perusahaan memiliki dua kenyataan yang berjalan beriringan, yaitu struktur resmi yang tertulis di kertas, dan dinamika nyata di lapangan.
Manajer sering diminta bekerja sesuai struktur organisasi yang kaku. Padahal, pekerjaan sehari-hari justru sering diselesaikan lewat komunikasi informal dan jaringan pertemanan yang nggak pernah dipetakan oleh perusahaan.