kubikel

Pencari Kerja Gen Z Sudah Meminta Work-Life Balance Sejak Wawancara Kerja Pertama

Rabu, 5 April 2023 | 16:07 WIB
Ilustrasi: Ketika Gen Z mengharapkan work life balance, benarkah yang dimaksud adalah fleksibilitas? (Freepik/Benzoix)

PejuangKantoran.com - Ekspektasi seputar work-life balance sudah berubah dalam tiga tahun terakhir, di mana karyawan Gen Z jadi menuntut agar keseimbangan ini diselaraskan dengan kebutuhan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Penyebabnya, Gen Z memasuki dunia kerja di tengah dampak COVID-19, yang memaksa banyak dari mereka untuk bekerja dari rumah. Hal ini rupanya terbawa ketika pandemi sudah mereda.

Akibatnya, mereka tidak ragu untuk menanyakan kemungkinan work-life balance saat wawancara kerja, membuat manajer yang mewawancarai mereka terkadang jadi frustrasi.

Baca Juga: Meski Seperti Mimpi, Tapi Ini Cara Kembalikan Work-Life Balance Kamu Saat Bekerja

Sebab, banyak manajer yang lebih sibuk bekerja daripada satu dekade yang lalu, sehingga mereka tidak berfokus pada keseimbangan kehidupan kerja. Malahan, semakin sibuk kesannya semakin keren.

Situasi yang terjadi selama pandemi mendorong Gen Z untuk memprioritaskan kehidupan pribadi sama besarnya dengan pekerjaan, dan mereka berani meminta kejelasan tersebut pada tim perekrutan.

Tergantung industrinya

Hal yang mengusik adalah, mengapa para kandidat menanyakan tentang work-life balance sejak tahap wawancara kerja? Bukannya pertanyaan ini merusak peluang mereka untuk diterima bekerja?

Jawabannya ternyata tergantung pada industri yang akan digeluti (keuangan, hukum, dan startup tidak menerima pertanyaan), pengalaman manajer, dan bagaimana lowongan pekerjaan itu diiklankan.

Beberapa industri membuka peluang pada pelamar untuk bertanya tentang work-life balance. Industri lainnya, seperti perbankan investasi, masih membutuhkan waktu berjam-jam di kantor atau di depan komputer.

Oleh karena itu, manajer perekrutan menyarankan Gen Z untuk belajar tentang ekspektasi industri sebelum bertanya tentang work-life balance saat wawancara kerja.

"Jika Anda langsung bertanya, 'Bisakah Anda menjelaskan work-life balance untuk posisi analis di perusahaan Anda?' Saya pikir lamaran Anda akan ditolak," kata Steven Sibley, Clinical Assistant Professor of Finance di Kelley School of Business, Universitas Indiana, tentang pelamar di dunia perbankan investasi.

Baca Juga: 8 Kompetensi yang Disukai HRD dari Calon Karyawan: Siapin Dulu Yuk!

Di pihak lain, menurutnya, pewawancara biasanya mencoba memahami etos kerja pelamar dengan mengajukan pertanyaan seperti, "Apakah mereka tipe orang yang ingin bekerja 80 jam, 90 jam seminggu, dan belajar sebanyak mungkin dalam dua tahun?

“Atau mereka tipe orang yang hanya ingin menghasilkan uang sebanyak mungkin dengan pekerjaan sesedikit mungkin?"

Dari pengalamannya, pelamar yang bertanya tentang work-life balance umumnya langsung ditempatkan di urutan terakhir.

Halaman:

Tags

Terkini