PejuangKantoran.com - Ketika komplotan pencuri menggondol perhiasan senilai 100 juta dollar dari museum terbesar dan paling banyak dikunjungi di dunia, Louvre, di Paris, Prancis, mereka mengejutkan dunia karena mengungkap kelemahan paling serius di ranah digital.
Audit keamanan siber para penyelidik yang sudah berlangsung selama satu dekade menemukan suatu celah kelemahan dalam sistem pengawasan mereka. Museum Louvre konon pernah menggunakan perangkat lunak Windows Server 2003 yang sudah ketinggalan zaman.
Selain itu, akses atap museum juga tidak dijaga, mirip sekali dengan cara komplotan pencuri baru-baru ini menggunakan tangga listrik untuk mencapai balkon.
Baca Juga: Antasari Azhar Meninggal Dunia, Mantan Ketua KPK Wafat di Usia 72 Tahun
Namun apa kesalahan terbesar mereka? ABC News melaporkan, saat pencurian Museum Louvre terjadi pada 19 Oktober, museum itu menggunakan namanya sendiri, Louvre, sebagai password untuk sistem pengawasannya!
"Thales" juga pernah dipakai sebagai kata sandi mereka. Salah satu dari dua password itu bahkan disebut-sebut terlihat di layar masuk. Itu seperti meninggalkan kunci di bawah keset museum paling terkenal di dunia.
Meskipun sejak saat itu Louvre mungkin sudah memperketat keamanannya, para ahli memperingatkan bahwa kebiasaan menggunakan kata sandi yang mudah ditebak seperti itu masih tersebar luas di kalangan bisnis dan individu.
Kekurangan kamera keamanan
Media Libération adalah yang pertama melaporkan dugaan kata sandi “Louvre” itu, dan mengutip dokumen rahasia. Media Prancis tersebut mengklaim password itu diungkapkan oleh Badan Keamanan Siber Nasional Prancis dalam audit tahun 2014.
Bulan lalu, komite budaya di Senat Prancis memeriksa Direktur Louvre, Laurence des Cars, di tengah pertanyaan mengenai keamanan museum.
Baca Juga: Penggunaan Kamera Lensa Lebar yang Jadi Tantangan buat Kru dan Pemain Film Dopamin
Des Cars mengatakan bahwa museum kekurangan kamera keamanan di luar monumen dan "kelemahan" lain yang diungkap oleh para pencuri.
"Hari ini kita mengalami kegagalan yang mengerikan di Louvre, dan saya turut bertanggung jawab," katanya.
"Kami tidak mendeteksi kedatangan para pencuri dengan cukup cepat," tambah des Cars.
Ia mengatakan alarm museum berfungsi dengan baik, tetapi sekarang ini belum ada pengawasan video penuh untuk perimeter luar museum. Namun ia mengatakan sudah ada rencana untuk menyediakan pengawasan penuh untuk semua fasad Louvre.
Artikel Terkait
Wali Kota Muslim Pertama New York Zohran Mamdani Punya Latar Belakang Keluarga yang Elit
Misteri Suara Gamelan yang Cuma Bisa Didengar Cinta Brian Tiap Pagi saat Syuting Film 'Kuncen'
Window-Sitting Tidak Selalu Berarti Negatif. Bisa Bermanfaat Positif Jika Mengikuti 7 Panduan Berikut Ini
Perusahaan yang Terlalu Mengandalkan AI akan Kesulitan Membangun Relasi yang Sehat Antar Karyawan
Lakukan 5 Cek Ini di Hotel Agar Staycation Kamu Aman dan Privasi Terjaga
3 Cara yang Bisa Kamu Terapkan dalam Melakukan Kolaborasi yang Efektif di Tempat Kerja
Lulusan Kesehatan Masyarakat Bisa Melamar Lowongan Product Specialist di Johnson & Johnson MedTech