• Pemasaran (Marketing): Paling tinggi, mencapai 25,9%.
• HRD: Sekitar 19,3%.
• Operasional dan Software Engineering: Sekitar 17-18%.
• Legal dan Compliance: Paling rendah, hanya di angka 6%.
Perbedaan ini biasanya terjadi karena tingkat adopsi teknologinya. Bidang kreatif dan teknis cenderung lebih cepat mencoba berbagai tools AI baru dibandingkan bidang hukum yang sangat hati-hati.
Baca Juga: Jarang Disosialisasikan, Padahal Employee Assistance Program Disediakan Gratis buat Karyawan
Meski begitu, penelitian ini bukan mau melarang penggunaan AI di tempat kerja. Justru, kalau AI dipakai untuk tugas-tugas rutin yang membosankan, risiko burnout (kelelahan kerja) malah menurun.
Masalahnya muncul ketika kita menggunakan AI untuk tugas-tugas kompleks secara bertubi-tubi tanpa jeda.
Kuncinya adalah manajemen diri. Beberapa ahli menyarankan untuk membatasi penggunaan AI, misalnya maksimal 3 jam sehari untuk tugas berat.
Perusahaan juga perlu peka dan mulai membuat aturan yang membolehkan karyawan untuk istirahat sejenak dari layar. AI memang berguna banget, tapi otak manusia tetap butuh ruang untuk bernapas.
Artikel Terkait
Jika Kontrak Kerja Karyawan PKWT Diperpanjang, THR Dihitung dari Awal Lagi atau Dilanjutkan?
Waspada! Kue Kering Lebaran Bisa Jadi "Musuh" Program Diet Kamu!
Bawang Putih Bertunas, Masih Aman Dimakan atau Harus Dibuang?
Hati-Hati! Tidak Semua Makanan Aman Dipanaskan Ulang
Jangan Asal Dimakan! Ini Makanan yang Tak Boleh Dikonsumsi Lewat Tanggal Kedaluwarsa
Bikin Mudik Aman dan Nyaman, Waspada Modus Penipuan Digital
6 Amalan Sunnah yang Sering Kali Terlupakan Saat Hari Raya Idulfitri