Memakai Terlalu Banyak Tools AI dalam Waktu Bersamaan Bikin Otak Nge-Hang dan Produktivitas Turun

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 19 Maret 2026 | 19:55 WIB
Ilustrasi: Penggunaan beberapa tools AI secara bersamaan ternyata bisa bikin otak jadi susah mikir dan sulit konsentrasi. (Freepik)
Ilustrasi: Penggunaan beberapa tools AI secara bersamaan ternyata bisa bikin otak jadi susah mikir dan sulit konsentrasi. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Penggunaan AI di tempat kerja menimbulkan berbagai dampak positif dan negatif. Meski bisa membantu mengotomatisasi tugas-tugas rutin dan berulang, sisi negatifnya pun langsung terasa.

Misalnya, saat ini muncul apa yang disebut fenomena "AI brain fry", yaitu rasa lelah luar biasa setelah seharian berkutat dengan berbagai tools AI. Niatnya ingin lebih cepat beres, tapi yang ada kepala rasanya capek banget buat mikir dan susah konsentrasi. 

Menurut studi terbaru dari Harvard Business Review yang melibatkan hampir 1.500 pekerja di Amerika Serikat, penggunaan tools AI yang berlebihan justru bisa jadi bumerang.

Baca Juga: Clift Sangra Rela Naikkan BB-nya 20 Kilogram Untuk Film 'Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa'

Terlalu banyak aplikasi AI yang dijalankan bersamaan ternyata nggak bikin kita makin produktif, melainkan malah memicu sakit kepala dan otak nge-hang sehingga sulit mengambil keputusan.

Batas maksimal otak kita

Studi ini menemukan pola yang khas soal produktivitas. Ketika seseorang mulai memakai satu atau dua tool AI, performa mereka memang melonjak drastis. Rasanya seperti punya asisten pribadi yang serba bisa.

Namun, begitu masuk ke tool ketiga dan seterusnya, grafik produktivitasnya bukan naik lagi, tapi justru menurun.

Matthew Kropp dari Boston Consulting Group mengatakan, mengawasi kinerja sistem AI itu butuh kerja otak yang berat. Menurutnya, ini bukan pekerjaan yang bisa dilakukan sambil lalu atau pakai cara hafalan saja.

"Misalnya saya seorang software engineer, lalu saya meminta AI mendesain dan menulis kode, dan hasil kerjanya itu sangat krusial. Jadi keluarannya harus benar-benar bagus," jelasnya.

Baca Juga: 5 Hal yang Perlu Kamu Ketahui tentang Employee Assistance Program, Cek Apakah Ada di Kantormu!

Stres karena mengelola satu asisten AI saja sudah cukup besar. Bayangkan kalau ditambah dua atau tiga lagi. Di sinilah titik jenuh atau breaking point itu muncul. 

"Daripada saya dipaksa 50 kali lipat lebih produktif tapi stres, mendingan saya 20 kali lipat lebih produktif saja, tapi mental tetap sehat dan nggak kepikiran buat resign," tambah Kropp.

Bidang yang paling terkena dampaknya

Meskipun mungkin sama-sama memakai berbagai tools AI, tingkat "AI brain fry" ini berbeda-beda di tiap industri. Hasil studi Harvard Business Review menunjukkan hal ini:

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Business Insider

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X