Pejuangkantoran.com – Kegaduhan yang disebabkan karena marshal lomba lari yang mengadang ajudan Danrem 072 Pamungkas Brigjen TNI Yuniar Dwi Hartono karena tidak memakai bib saat Mandiri Jogja Marathon 2026 (MJM 2026) pada 21 Juni 2026 lalu akhirnya diklarifikasi oleh Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen TNI Donny Pramono.
Menurut Donny Pramono, pengadangan ajudan oleh marshal event MJM 2026 ini merupakan kesalahpahaman. Seperti yang dikutip oleh Detik.com (23/062026), bib milik ajudan Danrem tersebut terlepas saat berada di lintasan yang cukup padat.
Dalam aturan event, hanya peserta dengan bib yang boleh berada di jalur lari, sehingga terjadilah insiden tersebut karena marshal melihat ajudan tidak mengenakan bib.
Bib atau bib number atau race bib adalah identitas resmi pelari dalam sebuah event lomba lari (race). Bib diberikan kepada setiap pelari, biasanya berupa lembar kertas atau kain yang ditempel di bagian depan kaos menggunakan peniti, atau kadang berbentuk race belt.
Fungsi bib di era lari modern seperti saat ini selain untuk identifikasi resmi peserta adalah untuk pencatatan waktu, keamanan verifikasi, dan dokumentasi foto (di mana fotografer dan sistem pencarian foto sering menggunakan bib number untuk menemukan peserta setelah lomba).
Istilah bib sendiri sebenarnya bukan singkatan atau akronim. Kata ini berasal dari bahasa Inggris "bib", yang berarti celemek kecil atau kain penutup dada yang biasa dipakai bayi saat makan agar pakaian tidak kotor.
Menurut etymonline.com, secara etimologis, kata bib sudah ada dalam bahasa Inggris sejak abad ke-16. Kata ini kemungkinan berasal dari kata kerja Inggris kuno bibben ("minum") atau terkait dengan bahasa Latin bibere yang berarti "minum".
Bagaimana akhirnya “celemek” ini menjadi bagian dari lomba lari? Pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20, ketika lomba lari modern mulai berkembang di Eropa dan Amerika, peserta diberi nomor identitas yang ditempelkan di bagian dada baju.
Karena bentuk dan letaknya menyerupai "bib" (kain yang menutupi dada), nomor peserta itu kemudian disebut race bib atau bib number. Namun lama-kelamaan, para pelari dan penyelenggara cukup menyebutnya "bib" saja.
Hingga sekarang istilah “bib” tersebut digunakan hampir di seluruh dunia untuk menyebut nomor peserta lomba lari. Kalau di Indonesia awalnya lebih dikenal dengan istilah “nomor dada”, namun kini istilah “bib” menjadi lebih popular.
Evolusi Bib
Tidak ada satu tanggal pasti kapan “bib” (nomor dada peserta) pertama kali digunakan dalam lomba lari. Praktik ini muncul bertahap seiring berkembangnya olahraga modern pada akhir abad ke-19.
Berdasarkan catatan sejarah olahraga, kronologi pemakaian bib bisa dijelaskan seperti ini:
Artikel Terkait
5 Tips Latihan Aman Jelang Marathon, Biar Lari Sampai Finish Tanpa Cedera
Mana yang Lebih Pas Untuk Marathon? Energy Gel atau Power Bar? Berikut Ini Jawaban dan Strateginya!
Begini Cara Menentukan Program Latihan untuk Mendapat Personal Best di Race Lari Berikutnya
Tidak Sekedar Lari, 2 Latihan Ini Wajib Dilakukan oleh Pelari
Dari Lapangan Hijau ke Lintasan 42 KM, Inilah Mantan Pesepak Bola yang Menaklukkan Marathon
Dalam Race Marathon, Keputusan DNF (Did Not Finish) Bukan Aib! DNF Merupakan Keputusan Terbaik!