Evolusi Jersey Sepak Bola Mulai dari Mirip Pakaian Sehari-hari Hingga yang Peduli Lingkungan Hidup

photo author
Sigit Triwahyu, Pejuang Kantoran
- Rabu, 17 Juni 2026 | 13:27 WIB
Evolusi jersey sepak bola di Piala Dunia, mulai dari model seperti pakaian sehari-hari hingga jersey yang peduli lingkungan hidup. (Screencapture dari FIFA.com)
Evolusi jersey sepak bola di Piala Dunia, mulai dari model seperti pakaian sehari-hari hingga jersey yang peduli lingkungan hidup. (Screencapture dari FIFA.com)
  1. Era Serat Sintetis (1960-an–1980-an)

Masuknya nilon dan poliester mengubah dunia jersey sepak bola. Bahan sintetis jauh lebih ringan dibanding katun dan lebih cepat kering setelah terkena hujan atau keringat.

Namun generasi awal jersey dengan poliester masih memiliki kelemahan. Bahannya kurang breathable, sehingga membuat pemain lebih mudah kepanasan.

Selain itu, jersey di era awal bahan sintertis ini terasa kaku di kulit. Meski demikian, era ini menjadi fondasi bagi jersey modern.

  1. Era Jersey Performa Tinggi (1990-an–2000-an)

Pada dekade 1990-an, bisa dibilang era awal jersey modern yang memang khusus dibuat untuk olah raga. Produsen seperti Adidas, Nike, dan PUMA mulai mengembangkan kain khusus olahraga.

Perubahan besar dalam bahan jersey adalah poliester ultraringan sehingga bobot jersey berkurang drastic. Jersey era ini juga sudah dikembangkan dengan teknologi penguapan keringat yang membuat jersey jauh lebih nyaman dipakai, apalagi bahannya membuatt pola potongan yang mengikuti gerakan tubuh.

Baca Juga: Evolusi Bola Dalam Pertandingan Piala Dunia, Ada yang Diproduksi di Indonesia, lho!

Beberapa teknologi yang dikembangkan untuk jersey di era ini antara lain Adidas Climalite (mengalirkan keringat keluar kain), Adidas Climacool (panel ventilasi dan sirkulasi udara), dan Nike Dri-FIT (mengangkat keringat dari kulit ke permukaan kain agar cepat menguap).

  1. Era Aerodinamika dan Rekayasa Tubuh (2010-an)

Pada era ini, jersey tidak lagi sekadar pakaian, tetapi menjadi bagian dari ilmu olahraga.

Inovasi yang muncul di era ini adalah potongan ergonomis 3D. Lalu teknologi kompresi otot di mana bahan menempel erat pada tubuh sehingga mendukung otot (salah satunya TechFit dari Adidas).

DI era ini, bobot jersey semakin ringan dan makin nyaman dipakai (lebih dingin) karena zona ventilasi ditempatkan berdasarkan peta panas tubuh pemain.

Di era ini, Nike mengembangkan Dri-FIT, AeroSwift, dan VaporKnit. Sementara Adidas mengembangkan Formotion, TechFit, Adizero, dan Climachill.

Baca Juga: Bagi Yang Supersibuk, Terapkan Teknik Tidur R90 ala Pemain Elit Liga Sepak Bola Eropa Untuk Kulitas Tidur Terbaik

  1. Era Keberlanjutan dan Data (2020-an–Sekarang)

Jersey modern saat ini sudah dibuat dengan bantuan analisis data, pemetaan panas tubuh, dan simulasi komputer. Ini menjadikan jersey menjadi lebih breathable sehingga lebih nyaman dipakai.

Teknologi terkini meliputi kain rajut rekayasa (engineered knit), lubang ventilasi laser-cut, atau struktur kain berbeda pada setiap bagian tubuh pemain. Menariknya, tak hanya soal mendukung performa olah raga, jersey di era ini juga mulai memperhatikan lingkungan hiudp dengan menggunakan material daur ulang.

Salah satu contoh yang menerapkan kedua hal tersebut adalah Nike. Nike memperkenalkan teknologi Aero-FIT untuk Piala Dunia 2026 yang diklaim mampu meningkatkan aliran udara lebih dari dua kali lipat dibanding jersey performa sebelumnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Berbagai Sumber, allfootballapp.com

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X