87% Perempuan Merasa Menstruasi Mengganggu Pekerjaan, tetapi Tidak Berani Bicara pada Atasan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Kamis, 25 April 2024 | 13:38 WIB
Ilustrasi: Sebanyak 87% karyawan merasa bahwa menstruasi sering mengganggu pekerjaan mereka. (Pexels/Sora Shimasaki)
Ilustrasi: Sebanyak 87% karyawan merasa bahwa menstruasi sering mengganggu pekerjaan mereka. (Pexels/Sora Shimasaki)

PejuangKantoran.comCuti haid selama dua hari secara resmi diatur dalam UU Nomor 13 Tahun 2003. Sayangnya, banyak karyawan perempuan yang tidak memanfaatkan cuti tersebut.

Malahan, banyak karyawan yang memaksakan diri tetap bekerja sambil menahan nyeri haid. Bahkan, banyak yang tidak bisa menyampaikannya pada atasan atau bahwa mereka perlu beristirahat.

Baca Juga: Konser Nick Carter di Jakarta Batal, Bagaimana Cara Refund Tiketnya?

Penelitian yang dilakukan oleh Queensland University of Technology terhadap 247 pelajar dan pekerja menemukan, hanya 6,7% karyawan yang mau jujur kepada atasan tentang mengapa mereka harus meninggalkan pekerjaan atau tinggal di rumah saat menstruasi.

Kemudian, 87% dari mereka yang disurvei (96%-nya diidentifikasi sebagai perempuan) merasa bahwa menstruasi sering mengganggu pekerjaan atau studi mereka.

"Saya terkadang mengatakan bahwa saya sedang tidak enak badan dan perlu bekerja dari rumah agar dekat dengan kamar mandi. Saya akan membiarkan orang-orang mengasumsikan itu sebagai gangguan pencernaan," kata salah seorang responden.

Sementara responden yang lain mengatakan bahwa mereka merasa tidak nyaman untuk memberikan alasan untuk tidak masuk kerja, karena rasanya seperti dibuat-buat. Padahal, ia betulan sedang kesakitan.

Baca Juga: Cek Daftar Perguruan Tinggi Mitra Program Djarum Beasiswa Plus 2024/2025 di Wilayah Jawa

Produk menstruasi gratis

Topik menstruasi memang masih termasuk hal yang tabu dibicarakan, bahkan di banyak negara lain. Untungnya, mulai ada inisiatif yang bertujuan untuk membuat tempat kerja menjadi lebih inklusif bagi mereka yang sedang menstruasi.

Awal bulan ini, pegawai pemerintah negara bagian Victoria, Australia, yang mengalami nyeri haid, gejala menopause, dan perawatan bayi tabung, diberi cuti sakit tambahan selama lima hari sebagai bagian dari negosiasi Enterprise Bargaining Agreement (Perjanjian Kerja Bersama).

Namun Victorian Women's Trust menjadi perusahaan pertama di Australia yang memperkenalkan Menstrual and Menopause Wellbeing Policy (Kebijakan Kesejahteraan Menstruasi dan Menopause).

Baca Juga: Masihkah Relevan Bekerja Sesuai Passion Bukan Gaji yang Lebih Besar? Kamu Pilih Mana, Gaji Vs Passion?

Organisasi lain termasuk Aintree Group, Fisher and Paykel Healthcare, Cura Day Hospitals Group dan bisnis olahraga Core Climbing juga ikut bergabung dalam inisiatif tersebut.

Sekolah-sekolah menyediakan pembalut gratis, begitu juga dengan dewan kota Melbourne, TAFE Queensland, dan universitas termasuk Griffith dan Monash.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Science Alert

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X