Kapan Kita Tahu bahwa Kita Terlalu Banyak Makan Keju? Ini Jawaban buat yang Takut Kolesterol Naik

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Minggu, 5 Mei 2024 | 19:28 WIB
Ilustrasi: Dengan kandungan lemak jenuhnya, kapan kita tahu kita terlalu banyak mengonsumsi keju? (Freepik/Kamran Aydinov)
Ilustrasi: Dengan kandungan lemak jenuhnya, kapan kita tahu kita terlalu banyak mengonsumsi keju? (Freepik/Kamran Aydinov)

PejuangKantoran.com - Ada masanya ketika dunia kuliner begitu terobsesi dengan keju, sehingga semua jenis makanan digempur dengan keju. Dari mi instan, ayam geprek, pempek, hingga seblak.

Hal ini menunjukkan bahwa keju memang bahan makanan yang cenderung disukai banyak orang. Dari yang semula tidak suka, akhirnya jadi suka karena keju dikombinasikan dengan makanan tradisional Indonesia.

Apa sih yang membuat rasa keju jadi begitu enak?

Menurut Michael Tunick, ahli kimia penelitian di Departemen Pertanian AS dan penulis buku The Science of Cheese, keju terasa enak karena, “Bakteri memecah protein, dan terutama lemaknya, menjadi sejumlah besar molekul yang memiliki rasa."

Baca Juga: Masalah Utama Pejuang Kantoran 9 To 5: Mata Kering Gara-gara Seharian Lihat Komputer dan HP

Ia membandingkannya dengan proses fermentasi yang terjadi pada bir dan anggur, di mana mikroba memakan gula dan menghasilkan alkohol serta berbagai macam rasa.

Hanya saja, apakah kita bisa tahu pasti kapan kita akan terlalu banyak mengonsumsi keju?

Keju merupakan sumber protein, kalsium, serta vitamin A dan B12, tetapi juga tinggi lemak jenuh dan garam. Menurut British Heart Foundation, satu porsi atau 30 gram keju Cheddar bisa mengandung lebih banyak garam dibandingkan sebungkus keripik.

Kadar lemak jenuh yang tinggi umumnya meningkatkan kolesterol dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

Namun, semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa keju memiliki “efek matriks” yang melindungi kita dari efek buruk lemak jenuh, demikian menurut Dr Emma Davies, PhD, ahli bidang kimia pangan dari Universitas Leeds.

Kebanyakan keju dibuat menggunakan enzim yang disebut chymosin untuk mengentalkan susu. Beberapa keju segar, seperti keju cottage, dibuat menggunakan asam.

Baca Juga: Lagi Tren di China, Pejuang Kantoran Pakai OOTD Ugly Clothes Buat ke Kantor, Apa Alasannya?

Keju jenis lain, seperti paneer, menggunakan kombinasi panas dan asam. Cara pembuatan keju akan memengaruhi cara tubuh kamu mencernanya.

Sebuah penelitian di Kanada pada tahun 2017 terhadap 43 sukarelawan yang sehat menunjukkan bahwa lemak dari krim keju lebih cepat dicerna dan diserap dibandingkan dari keju Cheddar.

Para peneliti berpendapat bahwa tetesan kecil lemak dalam krim keju mungkin lebih mudah diakses oleh enzim pencerna lemak tubuh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Business Insider, Science Focus

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X