Prevalensi GERD di Indonesia Cukup Tinggi, Benarkah Stres merupakan Pemicu Utamanya?

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 27 Januari 2026 | 20:55 WIB
Ilustrasi: Hampir 7 dari 10 orang dewasa harus membiasakan diri hidup dengan gejala seperti rasa terbakar di dada, mual, dan sulit tidur akibat asam lambung naik.. (Freepik/Johnstocker)
Ilustrasi: Hampir 7 dari 10 orang dewasa harus membiasakan diri hidup dengan gejala seperti rasa terbakar di dada, mual, dan sulit tidur akibat asam lambung naik.. (Freepik/Johnstocker)

PejuangKantoran.com - GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), atau yang dikenal sebagai penyakit asam lambung, merupakan penyakit yang umum terjadi. Namun, bukan berarti penyakit ini bisa dianggap remeh.

Dalam hasil penelitian yang diterbitkan di Journal of Clinical Gastroenterology edisi April 2024, terlihat adanya peningkatan prevalensi GERD di Indonesia dari tahun 2019 ke 2021, yaitu dari 61,8% menjadi 67,9%.

Hampir 7 dari 10 orang dewasa harus membiasakan diri hidup dengan gejala seperti rasa terbakar di dada (heartburn), mual, atau sulit tidur akibat asam lambung yang naik lagi ke kerongkongan.

Baca Juga: Mengapa GERD Sering Dialami oleh Karyawan di Tempat Kerja? Kenali Faktor Risiko dan Gejalanya!

Pemicu utama GERD boleh dibilang gaya hidup yang buruk, seperti pola makan yang tinggi lemak, stres kronis, obesitas, hingga faktor penuaan populasi.

GERD yang dipicu stres

Dari semua penyebab tersebut, stres merupakan salah satu pemicu utama GERD, baik itu stres betulan atau perasaan tertekan secara psikologis.

Dalam psikologi, stres didefinisikan sebagai rasa tegang atau tekanan emosional. Respons tubuh terhadap stres bisa jadi maladaptif. Artinya, malah bikin kita lebih rentan terkena masalah di organ tertentu seperti saluran pencernaan.

Penelitian di jurnal PLOS One tahun 2023 pun menemukan hubungan kuat antara stres dan gejala GERD, seperti mual akibat asam lambung naik atau heartburn. Hal itu menyebabkan orang dengan kadar stres yang tinggi sering mengonsumsi obat penurun asam lambung jangka panjang.

Masalahnya, respons tubuh mereka terhadap obat ini tergolong rendah jika dibandingkan orang yang kadar stresnya rendah. Oleh sebab itu, untuk mencegah dan mengobati GERD, yang harus diatasi lebih dulu adalah penyebab stresnya.

Baca Juga: Prilly Latuconsina Pasang Badge 'Open to Work' di LinkedIn, Warga: 'Sanggup Bayar Gajinya, Nggak?'

Untuk membantu meringankan gejala GERD yang dipicu stres, pasien biasanya diberikan obat anti-kecemasan atau antidepresan, ditambah terapi psikologis.

Stres mengganggu sistem pencernaan

Stres bisa mengganggu hubungan antara otak dan saluran pencernaan, yang sering disebut sebagai "brain-gut axis". Gangguan ini mengganggu fungsi pencernaan, dari produksi asam lambung, keseimbangan lapisan pelindung lambung, pergerakan makanan di usus, hingga sensitivitas saraf. Akibatnya, muncul berbagai masalah pencernaan, termasuk GERD itu sendiri.

Stres juga bisa mengganggu pergerakan otot lambung, sehingga proses pengosongan lambung menjadi lebih lambat. Kondisi ini meningkatkan tekanan di lambung, yang memicu isi lambung gampang naik lagi ke kerongkongan dan menyebabkan gejala GERD.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Siloam Hospital, rri co.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X