PejuangKantoran.com - Kebas dan kesemutan sering dianggap sepele. Padahal, bisa jadi itu gejala penyakit kronis kerusakan saraf tepi yang disebut dengan Neuropati Perifer (NP).
Faktanya, 8 dari 10 orang menderita Neuropati Perifer. Selain kebas dan kesemutan, gejala Neuropati Perifer lainnya antara lain sensasi terbakar, hingga rasa seperti ditusuk-tusuk.
Dalam banyak kasus, gejala penyakit kronis kerusakan saraf tepi bisa membaik, terutama jika disebabkan oleh kondisi yang dapat diobati. Rasa sakit tersebut bisa diatasi dengan obat-obatan.
Baca Juga: Polusi Udara Disebut Bisa Pengaruhi Produktivitas Pekerja, Termasuk Pekerja di Dalam Kantor?
Sistem saraf tepi pada dasarnya berfungsi mengirimkan informasi dari otak dan sumsum tulang belakang (sistem saraf pusat) ke seluruh tubuh kita. Saraf tepi juga bertugas mengirimkan informasi sensorik ke sistem saraf pusat.
Kerusakan saraf tepi dapat terjadi akibat luka eksternal, trauma karena operasi, infeksi, kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol, penyakit metabolisme seperti diabetes melitus, penyakit hepar, ginjal atau autoimun.
“Selain itu juga akibat kemoterapi kanker atau tumor, kekurangan nutrisi atau vitamin seperti defisiensi vitamin neurotropik, dan, yang walau presentasinya masih kecil di Indonesia, kelainan genetik," terang dr. Winnugroho Wiratman, SpN(K), PhD.
Hal ini disampaikannya saat talkshow “Hidup Bebas Tanpa Kebas dan Kesemutan” dalam rangkaian Neuropathy Awareness Week 2023 di Hotel Harris Jakarta, Minggu, (11/6/2023).
Jika tidak ditangani sejak dini, penyakit kronis kerusakan saraf tepi akan menimbulkan masalah serius yang bersifat permanen. Penderita akan mengalami kesulitan dalam beraktivitas, bahkan produktivitasnya juga terganggu.
Pencegahan kerusakan saraf tepi
Berdasarkan data Dukcapil tahun 2022, Indonesia didominasi masyarakat produktif yang berusia 15-64 tahun, yaitu sebanyak 190,83 juta jiwa atau 69,3% dari jumlah populasi.
Baca Juga: 7 Tips buat yang Baru Pertama Nge-Gym (Salah Satunya Fokus pada Teknik yang Benar)
Namun, kalangan usia produktif ini seringkali tidak membiasakan diri dengan gaya hidup yang sehat. Pola makan tidak seimbang, aktivitas dengan gerakan berulang seperti bermain handphone terlalu lama, serta paparan bahan kimia akibat polutan di tempat kerja maupun di tempat umum, bisa meningkatkan potensi neuropati.
Jika melihat catatan Kemenkes, sekitar 60 persen dari total kasus neuropati disebabkan karena diabetes. Dengan kata lain, diabetes merupakan salah satu penyebab paling umum.
“Itu sebabnya kampanye edukasi masyarakat dan deteksi dini penting karena ini cara paling efektif dan efisien untuk mengendalikan faktor risiko," terang Project Manager Officer Kesehatan Masyarakat, Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Kemenkes, Syahrul Effendi P, SKM.M.KKK.
Artikel Terkait
Istana Kenalkan Logo HUT ke-78 RI dan Tema Resminya, Bisa Di-Download Juga Lho!
Banyak Pihak “Nebeng” Kesuksesan Putri Ariani, Begini Saran Melanie Subono untuk Menghadapinya
Apa itu CV ATS dan Benarkah Bisa Membuatmu Lebih Mungkin Dipanggil Interview Kerja?
Simak Cara Membuat CV ATS Friendly dari Template-nya
3 Bantahan Mario Dandy terhadap Kesaksian Jonathan Latumahina di Persidangan
Mario Dandy dan Shane Lukas Minta Maaf di Persidangan, Reaksi Ayah David Ozora Malah Begini