PejuangKantoran.com - Sudah resign dan bekerja di tempat yang baru, tetapi dua tahun kemudian memutuskan untuk kembali bekerja di kantor lama. Dan atasanmu pun menerimamu kembali.
Mungkin kamu yang bekerja di bank atau media pernah mengalaminya juga.
Ada dua tipe boomerang employee, sebutan untuk karyawan yang kembali bekerja di kantor lama setelah resign ini. Pertama, mereka memilih untuk melamar kembali di perusahaan yang lama.
Baca Juga: 3 Pertimbangan Sebelum Memutuskan Kembali Bekerja di Kantor Lama yang Pernah Memecat Kamu
Kedua, mereka memang diminta atau ditarik untuk kembali bekerja di perusahaan tersebut oleh mantan atasannya. Tentunya dengan gaji yang lebih tinggi.
Apakah kembali bekerja di kantor lama setelah sempat keluar memang sebuah tren, dan apa implikasinya?
Menarik karyawan yang sudah resign untuk kembali bekerja di kantor lama terkadang merupakan inisiatif strategis bagi perusahaan, kata Jaspreet Singh Bakshi, Head of Human Resources, Global Capability Center, Marsh McLennan.
Selain kembali dengan keterampilan dan pengalaman baru, orang-orang ini juga membawa pengetahuan dan perspektif baru. Mereka mendapatkan pengalaman dan perspektif baru dari perusahaan lain yang berbeda jauh dari kantor lama.
Perusahaan sendiri cenderung menyukai karyawan yang kembali ke kantor lama setelah resign karena mereka sudah familiar dengan fungsi, proses, dan budaya organisasi. Mereka bisa langsung tune in tanpa perlu banyak bimbingan lagi.
“Dan karena mereka telah menjelajahi tempat kerja lain, kami dapat memanfaatkan pengalaman tersebut untuk membantu kami tumbuh dan berkembang,” kata Bakshi.
Baca Juga: Sebagai Walikota London, Sadiq Khan Bisa Menetapkan Gaji dan Tunjangan Pensiunnya Sendiri
Memelihara hubungan yang kuat
Fenomena kembali bekerja di kantor lama lebih umum terjadi di kalangan karyawan dengan jabatan menengah, meskipun fenomena ini juga terjadi pada level CXO (Chief Experience Officer), kata Aditya Narayan Mishra, MD & CEO, CIEL HR.
“Yang mendorong mereka kembali ke tempat kerja mereka sebelumnya itu berbeda-beda, seiring dengan hierarki peran dan tahap kehidupan mereka,” katanya.
Menurutnya, orang-orang yang memegang peran CXO termotivasi oleh tantangan yang terkait dengan peran tersebut, rekan kerja yang mereka butuhkan untuk bekerja, dan sikap perusahaan yang berada di puncak.
Artikel Terkait
5 Istilah Terapi Psikologi yang Mungkin Terlalu Sering Disalahgunakan dalam Pergaulan
Daftar Bank Bangkrut di 2024, Cek di Sini!
Didukung Produser Film Korea, Malam Pencabut Nyawa Angkat Tema Roh Gelap yang Rasuki Dunia Mimpi
Sejarah Sepatu Bata, Sepatu Asal Ceko yang Sering Dikira Produk Lokal!
Pramugari Jadi Profesi Impianmu? Nih Emirates Bakal Rekrut 5.000 Awak Kabin pada 2024
BPS: Jumlah Pekerja Disabilitas di Indonesia Naik 160 Persen di 2022
Awas Polusi Udara, Bisa Sebabkan Banyak Masalah Kulit termasuk Penuaan Dini