Kemungkinan Perempuan Mengambil Cuti untuk Mengasuh Anak 334% Lebih Besar daripada Laki-Laki

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Selasa, 14 Januari 2025 | 22:31 WIB
Ilustrasi: Kemungkinan perempuan mengambil jatah cuti untuk mengasuh anak 334% lebih besar daripada laki-laki. (Freepik/Azerbaijan_stockers)
Ilustrasi: Kemungkinan perempuan mengambil jatah cuti untuk mengasuh anak 334% lebih besar daripada laki-laki. (Freepik/Azerbaijan_stockers)

PejuangKantoran.com - Ketika anak sakit, siapa yang dipastikan akan izin dari kantor untuk menemaninya? Yup, tepat sekali. Pasti sang ibu yang otomatis tidak masuk kantor karena harus mengurus anak. Hal ini tidak hanya terjadi di Indonesia.

Data baru telah mengungkap adanya kesenjangan gender dalam alasan orang mengambil cuti sakit di Inggris, di mana perempuan mengambil lebih banyak waktu cuti untuk mengasuh anak daripada laki-laki pada tahun 2023.

The Sick Leave Reasoning Report oleh Access People, yang merupakan bagian dari The Access Group, mengumpulkan data ketidakhadiran dari lebih dari 1.775 bisnis kecil dan menengah, untuk melacak penyebab meningkatnya karyawan yang absen karena sakit.

Baca Juga: Siap-Siap Traveling! Ini Daftar 80 Negara Bebas Visa untuk Pemegang Paspor Indonesia 2025

Mengasuh anak muncul sebagai alasan paling umum untuk cuti sakit di Inggris pada tahun 2023, naik sebesar 183% untuk orang tua dan pengasuh. Kemungkinan karena staf kembali bekerja di kantor pada tahun 2024 sehingga sulit untuk berada di rumah.

Kesenjangan gender untuk alasan cuti sakit terlihat dari fakta di mana perempuan mengambil cuti sakit untuk mengasuh anak 334% lebih besar daripada laki-laki dari tahun 2022 hingga 2023.

Kesenjangan ini berlanjut dari dua tahun sebelumnya, meskipun perbedaannya tidak terlalu mencolok. Faktanya, perempuan mengambil 10,34% lebih banyak cuti sakit untuk mengasuh anak daripada laki-laki pada tahun 2021, dan 4,35% lebih banyak pada tahun 2022.

Secara individu, laki-laki dan perempuan sama-sama mengalami peningkatan cuti sakit yang diambil untuk mengasuh anak dan tanggungan keluarga dari tahun 2022 hingga 2023.

Meskipun begitu, kemungkinan perempuan mengambil lebih banyak cuti naik 371% dibandingkan dengan laki-laki yang hanya naik sebesar 13%.

Meskipun mengambil cuti untuk keluarga ini mungkin merupakan keharusan bagi orang tua dan pengasuh, hal itu bisa mengurangi jatah cuti berbayar untuk diri mereka sendiri jika mereka jatuh sakit.

Hal inilah yang menyebabkan melonjaknya permintaan pekerjaan fleksibel dan pekerjaan remote pada tahun 2023. Sebab, orang-orang ingin mendapatkan kembali kesempatan untuk merawat keluarga di rumah tanpa mengorbankan fasilitas cuti berbayar.

Baca Juga: Berapa Gaji SPPI, Sarjana Penggerak Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis?

Hal ini juga menekankan pentingnya pekerjaan dengan jam kerja yang fleksibel dan dampaknya pada keseimbangan kehidupan kerja.

Banyak perusahaan yang mengharuskan karyawan kembali ke kantor hingga tahun 2024. Namun, melonggarkan kebijakan tersebut bisa meningkatkan inklusivitas, kesetaraan, dan keberagaman tenaga kerja yang mereka pertahankan.

“Meskipun data menekankan pada kesenjangan gender antara karyawan yang cuti sakit untuk mengasuh anak, hal itu juga menandakan peluang bagi organisasi untuk menumbuhkan budaya tempat kerja yang lebih mendukung dan inklusif yang mengurangi ketegangan ini pada orang tua dan pengasuh.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: HRnews.co.uk

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X