CEO Ralph Lauren Bilang: Kalau Mau Feedback Lebih Ngena, Kadang Caranya Harus Blak-blakan

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 23 April 2025 | 09:08 WIB
Ilustrasi: Tidak ada rumus pasti dalam hal cara memberi feedback pada karyawan. (Freepik)
Ilustrasi: Tidak ada rumus pasti dalam hal cara memberi feedback pada karyawan. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Memberi feedback pada karyawan bukan hal yang mudah. Tetapi menurut Patrice Louvet, CEO Ralph Lauren, kadang caranya memang harus blak-blakan.

“Kadang orang perlu diketok pakai balok 2x4 di jidat supaya sadar," ujar Louvet, setengah berseloroh.

Pendapatnya memang terdengar ekstrem, tetapi yang dia maksud bukan betulan dipukul. Hal itu hanya merupakan metafora yang disampaikan Louvet saat ngobrol di podcast This is Working.

Baca Juga: Vatikan Mengeluarkan Pernyataan secara Resmi Penyebab Kematian Paus Fransiskus

Intinya, kalau ada masalah besar, nggak perlu muter-muter. Langsung saja sampaikan intinya. Menurut dia, komunikasi yang terlalu halus terkadang justru nggak ngena, dan bikin pesan penting jadi nggak diproses dengan benar oleh karyawan.

Tegas, tapi gunakan sentuhan manusia

Meski terdengar keras, Louvet bukan tipe bos galak. Dia sangat mengerti bahwa nggak semua masalah perlu ditangani dengan “balok 2x4”.

Misalnya soal gaya kerja yang berantakan, selama itu nggak mengganggu tim secara keseluruhan, dia lebih memilih pendekatan yang lebih lembut. Mulainya dari kekuatan atau kelebihan si karyawan dulu, baru kemudian masuk ke area yang perlu ditingkatkan.

“Kasih tahu mereka bahwa ini adalah kesempatan buat berkembang,” kata Louvet, yang sebelum menjadi CEO di perusahaan fashion mewah itu menghabiskan hampir 30 tahun di Procter & Gamble.

Baginya, fokus utama harus tetap ke kekuatan kita masing-masing. “Sebanyak 80% waktu kita harus dipakai untuk mengembangkan kekuatan, sisanya baru untuk memperbaiki kelemahan,” tambahnya.

Baca Juga: Buat yang Lagi Diet: Intermittent Fasting Lebih Efektif dari Sekadar Mengurangi Kalori?

Feedback itu bukan ilmu pasti

Faktanya, banyak karyawan sebenarnya ingin sekali diberi feedback. Studi menunjukkan 75% karyawan merasa kurang dihargai di tempat kerja.

Buat Gen Z yang baru mulai kerja, feedback itu krusial banget supaya mereka nggak cepat "tersingkir" hanya karena belum tahu apa yang kurang dari mereka.

Masalahnya, banyak atasan justru belum tahu cara memberi feedback pada karyawan dengan cara yang pas. Bahkan hanya 14% eksekutif Fortune 500 yang benar-benar tahu siapa karyawan terbaik dan terburuk di perusahaannya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Fortune, Yahoo Finance

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X