Budaya Kerja yang Menuntut Karyawan untuk Terus Membuktikan Diri Bisa Memicu Kelelahan

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Jumat, 26 September 2025 | 19:44 WIB
Ilustrasi: Terus-terusan diminta untuk menunjukkan pencapaian akan membuat karyawan stres dan kelelahan. (Freepik)
Ilustrasi: Terus-terusan diminta untuk menunjukkan pencapaian akan membuat karyawan stres dan kelelahan. (Freepik)

PejuangKantoran.com - Bayangkan kamu sedang sibuk di kantor, banyak tab terbuka di laptop,  lalu tiba-tiba masuk email dari atasan. Isinya kurang lebih, “Tolong buat ringkasan apa saja yang sudah kamu kerjakan tahun ini untuk membenarkan pembebasan tugas kamu.”

Sekilas mungkin terdengar wajar, tetapi bagi banyak karyawan, permintaan semacam ini bisa bikin perut terasa melilit. Padahal, pembebasan tugas atau penugasan tambahan biasanya sudah disetujui secara resmi.

Namun, begitu diminta membuat daftar, rasanya seperti duduk di kursi sidang, harus membela diri agar tidak dicap kurang produktif.

Baca Juga: 6 Kualitas Kepemimpinan Modern yang Membuat Kamu Lebih Menonjol di Dunia Kerja

Bahkan, daftar yang disusun dari kalender, email, atau catatan harian bukan lagi terasa sebagai rangkuman pencapaian, melainkan seperti “berkas pembelaan”.

Sebenarnya, yang menguras tenaga bukan hanya membuat daftarnya, tetapi juga perasaan bahwa setelah laporan dikirim, jam seolah di-reset, dan kamu harus membuktikan diri lagi dari nol.

Saat ini, banyak karyawan yang diminta rutin melaporkan pencapaian setiap minggu. Bagi sebagian orang, aturan ini bukannya memotivasi, melainkan justru memicu stres dan kelelahan.

Budaya “proving” vs. “belonging”

Ketika kantor lebih menekankan pembenaran diri daripada rasa percaya, suasana kerja berubah menjadi seperti ujian yang tidak ada habisnya.

Nilai seorang karyawan bukan lagi dilihat dari siapa dirinya atau kontribusi jangka panjang, tetapi dari seberapa sering dia bisa menunjukkan bukti bahwa dirinya masih “layak” ada di sana.

Baca Juga: Diundang Wawancara Kerja dengan Metode Gamified Assessment? Ini yang Harus Kamu Siapkan!

Akibatnya, fokus pun bergeser. Bukannya mengerjakan hal-hal penting, energi habis untuk mendokumentasikan pekerjaan agar terlihat produktif di atas kertas.

Apa kata penelitian?

Psikolog Barbara Fredrickson lewat teori broaden-and-build menjelaskan, ketika orang merasa dipercaya, dihargai, dan terhubung, pikiran jadi lebih terbuka. Hasilnya, muncul kreativitas, keberanian menghadapi tantangan, dan daya tahan menghadapi tekanan.

Sebaliknya, ketika yang dominan justru rasa takut atau cemas, pikiran menyempit. Fokus hanya pada hal-hal yang dianggap ancaman, sedangkan ide-ide segar, empati, dan kreativitas jadi terhambat.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Psychology Today

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X