Meski Cerdas Teknologi, Soft Skills Jadi PR Besar Kaum Milenial dan Gen Z di Dunia Kerja

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Senin, 29 September 2025 | 09:09 WIB
Ilustrasi: Gen Z memang andal dalam hard skill, namun soft skill masih jadi PR besar buat generasi ini. (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Gen Z memang andal dalam hard skill, namun soft skill masih jadi PR besar buat generasi ini. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Beberapa tahun ke depan, Generasi Milenial dan Gen Z akan menjadi tenaga kerja terbesar di dunia. Bahkan, banyak dari mereka diperkirakan akan menduduki posisi penting sebagai pemimpin perusahaan.

Allianz memperkirakan, pada tahun 2025 Generasi Milenial mengisi sekitar 75% tenaga kerja global. Jadi, penting sekali memahami motivasi dan karakter mereka.

Catatan menariknya adalah, meskipun disebut digital natives, ternyata banyak Milenial masih ketinggalan dalam beberapa keterampilan dasar.

Baca Juga: Nasib Pegawai ASN di Kementerian BUMN usai Jadi Badan Diungkap Menpan RB Rini Widyantini

Contohnya, sebuah studi pada 2015 menemukan bahwa Milenial di Amerika Serikat kurang unggul dalam literasi, matematika dasar, hingga pemecahan masalah di lingkungan teknologi, jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya atau dengan negara lain.

Jadi meski terbiasa dengan gadget, bukan berarti mereka otomatis unggul dalam segala hal.

Soft skill jadi kunci

Selain soal keterampilan teknis, ada hal lain yang sering jadi sorotan, yaitu keterampilan lunak atau soft skill.

Banyak ahli menilai Generasi Milenial dan Gen Z kurang terbiasa dengan komunikasi tatap muka. Kebanyakan interaksi mereka lewat chat, media sosial, atau pesan instan.

Akibatnya, kemampuan untuk mengobrol secara langsung, membangun hubungan yang dalam, atau menghadapi percakapan sulit jadi lebih lemah.

Padahal, dunia kerja sangat butuh keterampilan komunikasi, kepemimpinan, kecerdasan emosional, kerja tim, sampai kemampuan mengambil keputusan yang sulit. Inilah yang dikhawatirkan banyak pihak jika generasi baru ini belum benar-benar siap.

Baca Juga: 3 Alasan Mengapa Duet Kate Beckinsale dan Scott Eastwood dalam Stolen Girl Wajib Ditonton!

Masa depan kepemimpinan

Simon Sinek, seorang pakar kepemimpinan, mengatakan bahwa jadi pemimpin itu bukan soal jabatan, tetapi lebih tentang keberanian untuk melangkah pertama kali. Mulai dari berani mengambil risiko, memberikan feedback jujur, dan tetap adil pada tim.

Sayangnya, banyak keterampilan dasar ini belum dimiliki penuh oleh generasi baru. Karena itu, perusahaan punya tanggung jawab besar. Mereka perlu menyediakan pelatihan komunikasi, cara memberi dan menerima umpan balik, sampai keterampilan menghadapi konflik.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Safety4Sea

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X