Jangan Sungkan Ambil Cuti Sakit, Ini Bukan Tanda Lemah Melainkan Cara Merawat Diri Sendiri

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 30 September 2025 | 12:15 WIB
Ketika benar-benar sakit, jangan ragu untuk mengajukan cuti. Bukan soal kamu lemah, tapi kamu memang butuh istirahat agar bisa perform lagi. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ketika benar-benar sakit, jangan ragu untuk mengajukan cuti. Bukan soal kamu lemah, tapi kamu memang butuh istirahat agar bisa perform lagi. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Di banyak tempat kerja, masih ada anggapan kalau absen karena sakit berarti kamu kurang tangguh. Padahal, tubuh kamu juga butuh istirahat agar bisa kembali bugar dan produktif.

Pengalaman aktris sekaligus komedian Amy Poehler bisa jadi contoh nyata bagaimana mitos produktivitas sudah lama melekat, terutama di generasi sebelumnya.

Amy Poehler pernah bercerita kalau selama dia bekerja di “Saturday Night Live” sampai “Parks and Recreation,” dia sama sekali tidak pernah mengambil cuti sakit. Buatnya, sakit bukan alasan untuk absen.

Bahkan, ketika tubuhnya panas tinggi sampai 40 derajat, dia tetap syuting bersama Alec Baldwin. Bayangkan saja, rasanya seperti jalan dalam mimpi, tetapi dia tetap memaksa hadir di lokasi kerja.

Jika kamu pernah merasakan hal yang serupa, kamu pasti paham rasanya. Dari dulu banyak orang percaya kalau semakin sibuk berarti semakin berharga.

Olivia Colman, aktris lain, juga mengalami hal yang sama. Dia mengaku tetap syuting meski dua kali terkena pneumonia. Dia sadar itu bukan pilihan pintar, tetapi budaya kerja waktu itu membuat dia merasa tidak ada pilihan lain.

Baca Juga: 6 Etika Out of Office yang Tepat saat Cuti, Supaya Tidak Terus-Terusan Dapat Email dari Kantor

Budaya kerja generasi X

Poehler bilang, pola pikir seperti ini khas generasi X. Sejak lama, mereka percaya kalau nilai diri diukur dari seberapa keras kamu bekerja. Hal ini mengakibatkan jadwal super padat sering dianggap tanda kebanggaan.

Banyak orang yang diam-diam merasa bersalah kalau sampai harus ambil cuti. Sehari saja libur dapat membuat mereka takut dicap kurang berkomitmen.

Menurut Allison Tibbs, pelatih eksekutif yang fokus pada kesejahteraan, banyak pekerja berprestasi tinggi mengaitkan harga dirinya dengan seberapa produktif dia.

Jika kamu merasa harus terus bekerja agar dianggap bernilai, kamu tidak sendirian karena banyak orang punya perasaan yang sama. Akhirnya, istirahat dianggap kemewahan, padahal tubuh kamu jelas butuh jeda.

Berbeda dengan Gen Z

Bedanya dengan generasi sekarang, banyak anak muda lebih berani menjaga keseimbangan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: CNBC, Make It

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X