Burnout Jadi Alasan Utama Cuti Sakit, Kenapa Semakin Banyak Karyawan Mengalaminya?

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Selasa, 7 Oktober 2025 | 20:07 WIB
Ketika benar-benar sakit, jangan ragu untuk mengajukan cuti. Bukan soal kamu lemah, tapi kamu memang butuh istirahat agar bisa perform lagi. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Ketika benar-benar sakit, jangan ragu untuk mengajukan cuti. Bukan soal kamu lemah, tapi kamu memang butuh istirahat agar bisa perform lagi. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Apa yang bisa dilakukan perusahaan?

Menurut Adrian Matthews, Kepala Manfaat Karyawan di MetLife UK, perusahaan perlu lebih serius menangani isu burnout ini.

Kelelahan kerja bukan sekadar masalah individu, tetapi bisa berdampak pada produktivitas, moral tim, bahkan kinerja perusahaan secara keseluruhan.

Ia menyarankan agar perusahaan:

- Lebih rutin berdialog dengan karyawan soal kesehatan dan kesejahteraan.

- Menyediakan layanan pendukung, seperti konseling, sesi kesehatan mental, bantuan duka, hingga perlindungan finansial.

- Membuka ruang transparan agar karyawan tidak takut bicara soal masalah mental.

Baca Juga: Meski Maksudnya Baik, Program Kesehatan Kantor Jarang Dirasakan Manfaatnya oleh Karyawan. Kok Bisa?

Burnout jangan lagi jadi hal yang tabu

Dulu, bicara tentang burnout sering dianggap tabu. Namun, saat ini data menunjukkan bahwa masalah ini nyata dan tidak bisa diabaikan.

Untuk ke depan, perusahaan perlu melihat kesehatan mental bukan sebagai “tambahan”, tetapi bagian penting dari lingkungan kerja yang sehat.

Dengan dukungan yang tepat, perusahaan bisa menciptakan budaya kerja yang lebih manusiawi. Hasilnya, karyawan menjadi lebih bahagia, lebih sehat, dan tentu saja lebih produktif.

 

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Christina A.S

Sumber: Time Doctor

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X