Realita Beratnya Menjadi Seorang Manajer Madya, Antara “Membela” Atasan atau Tim

photo author
Elga Windasari, Pejuang Kantoran
- Sabtu, 1 November 2025 | 17:20 WIB
Konsekuensi posisi mid manager memang terkadang lebih berat, antara membela atasan atau anggota timnya. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)
Konsekuensi posisi mid manager memang terkadang lebih berat, antara membela atasan atau anggota timnya. (Pejuangkantoran.com/Made with Google AI)

Pejuangkantoran.com - Di tempat kerja, terkadang kamu ada di posisi yang serba salah. Dari atas ada target dan arahan yang harus dijalankan, tetapi di saat yang sama kamu juga harus menjaga tim di bawah kamu agar tetap kompak dan semangat.

Meski berusaha jadi penghubung yang menenangkan semua pihak, tetapi lama-lama tekanan itu bisa membuat kamu lelah. Apalagi kalau semuanya datang bersamaan tanpa jeda.

Ini adalah konsekuensi ketika posisimu ada di manajer madya (mid manager). Sekilas, posisi middle management ini terlihat stabil dan penuh peluang. Namun, di balik itu ada tanggung jawab yang besar tanpa kuasa penuh dapat membuat kamu merasa terjepit.

Harus kuat di depan tim, tetapi juga harus memenuhi ekspektasi dari atas. Lama-lama, energi terkuras dan motivasi pun bisa ikut turun.

Jika kamu mulai merasa seperti itu, kamu tidak sendirian. Banyak orang di posisi ini mengalami hal yang sama. Bukan karena tidak mampu, tetapi karena tuntutannya memang berat.

Baca Juga: Promosi Bukan Hadiah, Ini Alasan Tidak Semua Karyawan Harus (dan Ingin) Jadi Manajer!

Mengapa ini bisa terjadi dan seperti apa rasanya?

Kelelahan kerja sering muncul karena kamu mendapat tekanan dari atas dan bawah serta harus menanggung banyak hal sekaligus.

Meski kamu jadi penghubung antara manajemen dan tim, tetapi sering tidak punya kendali penuh atas keputusan besar. Rasanya seperti diminta bertanggung jawab atas sesuatu yang bukan sepenuhnya di tangan kamu.

Kondisi ini makin berat saat lingkungan kerja berubah cepat, misalnya ketika ada pemangkasan anggaran, restrukturisasi, atau target yang meningkat. Kamu tetap harus menjaga semangat tim, padahal kamu sendiri sedang berusaha bertahan.

Banyak manajer madya akhirnya kewalahan, apalagi jika di luar pekerjaan kamu juga punya tanggung jawab lain seperti keluarga. Energi terbagi, waktu istirahat berkurang, dan pikiran terasa penuh.

Baca Juga: Manajer Adalah Pimpinan Sekaligus Pelatih, Karena iItu Lakukan Hal Berikut Ini Untuk Tingkatkan Produktivitas Tim!

Akibatnya, kamu bisa cepat lelah, mudah stres, atau kehilangan fokus. Tanda-tandanya sering tidak langsung terlihat. Bisa saja kamu jadi lebih mudah kesal, merasa kurang, atau mulai kehilangan kepedulian pada hal-hal yang dulu penting untuk kamu.

Saat sampai di titik itu, artinya kamu perlu berhenti sejenak dan memberi ruang untuk diri sendiri.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Sigit Triwahyu

Sumber: Huffington Post

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X