Fakta yang mencengangkan, meskipun Jepang dengan teknologinya yang maju, namun adopsi digitalisasi kerja (seperti remote work dan sistem cloud) agak lambat, terutama di sektor publik dan perusahaan tradisional.
Melihat fakta-fakta tersebut, bukan berarti budaya kerja di Jepang tidak bisa kita adaptasi. Justru dengan mengetahui kekuatan dan kelemahannya, kita bisa mengadapatasi budaya kerja ini seperti berikut:
- Aspek etos dan disiplin kerja
Aspek ini sangat tinggi di Jepang. Misal, datang tepat waktu, loyal pada Perusahaan, dan disiplin serta patuh pada standar kerja.
Sementara di Indonesia, hal ini belum seragam, masih tergantung sektor dan kepemimpinan. Di industry manufaktr, disiplin tinggi, namun terasa lebih longgar di sektor publik dan kreatif.
Budaya disiplin Jepang ini bisa diadaptasi lewat leadership by example dan sistem penghargaan berbasis hasil, bukan hanya kehadiran.
- Sistem manajemen dan proses kerja
Di Jepang system manajemen dan proses kerja terstruktur dengan baik. Ini berbasis pada budaya Kaizen dan Lean yang fokus pada efisiensi dan perbaikan berkelanjutan.
Di Indonesia, masih banyak proses manual dan birokratis serta sistem efisiensi belum menjadi budaya menyeluruh.
Jika ingin mengadaptasi budaya ini dari Jepang, maka mengimplememtasikan continuous improvement kecil-kecilan bisa dilakukan. Ini bisa dimulai dari unit kerja atau tim tanpa menunggu kebijakan besar.
Baca Juga: Budaya Kerja yang Bikin Kamu Dianggap Tidak Pernah Cukup dan saat Kamu Benar-Benar Dihargai
- Waktu kerja dan produktivitas per jam
Seperti disampaikan di atas, meskipun jam kerja panjang yang umum di Jepang, namun produktivitasnya masih jeblok di antara negara-negara OECD.
Di Indonesia, jam kerja standar, nine to five. Namin produktivitasnya juga cenderung rendah karena minim fokus dan banyak distraksi.
Bentuk adapatasinya, mengubah dari “jam kerja panjang” ke “hasil kerja terukur”. Fokus pada output, bukan durasi.
- Pengambilan keputusan
Di Jepang, keputusan diambil melalui konsesus (nemawashi) yang lambat namun solid. Di Indonesia cenderung top-down, keputusan yang cepat namun kurang melibatkan tim.
Dua hal ini jika dikombinasikan, diskusi tim dan keputusan tegas dari pimpinan, akan memberikan dampak yang lebih baik.
Artikel Terkait
4 Cara untuk Mengurangi Jam Kerja dalam Seminggu, Tak Perlu Lagi Kerja “9 to 5” Setiap Hari
3 Cara Meningkatkan Kolaborasi di Tempat Kerja agar Tak Ada Karyawan yang Beban Kerjanya Lebih Besar
Budaya Kerja Toksik Bisa Jadi Biang Kerok Impostor Syndrome, Bikin Karyawan Kehilangan Percaya Diri
Nemawashi, Filosofi Jepang yang Membantu Kita Membuat Keputusan yang Bikin Orang Merasa Dilibatkan
Sejarah Matcha di Dunia dan Indonesia Ternyata Bukan Asli Jepang dan Perkembangannya Didorong Pandemi!
Alih-alih Melakukan Work-Life Balance, Lakukan Work-Life Integration yang Lebih Realistis Saat Ini