Quiet Leadership Jadi Skill Penting di Tahun 2026, Bukti Tak Harus Bersuara Kencang agar Didengar

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 2 Februari 2026 | 14:54 WIB
Ilustrasi: Quiet leadership bukan berarti pasif atau tipe yang menghindari konflik.  (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Quiet leadership bukan berarti pasif atau tipe yang menghindari konflik. (Freepik/Pressfoto)

PejuangKantoran.com - Dari dulu kita sering mendengar kalimat, “yang paling berisik biasanya paling didengar.” Seolah-olah kalau mau dianggap punya peran, ya harus banyak ngomong. Harus vokal dan selalu kelihatan.

Padahal, di dunia kerja nyata, pelajaran itu sering kebablasan. Bicara jadi segalanya, sementara kemampuan mendengar malah ketinggalan.

Faktanya, beberapa pemimpin paling efektif justru bukan yang paling dominan di ruang meeting. Mereka yang kelihatan tenang, mikir dulu sebelum bertindak, dan konsisten dalam sikap, biasanya lebih disegani. Hal ini membutuhkan kecerdasan emosional yang matang.

Baca Juga: 45% Pekerja Asing Berketerampilan Tinggi yang Bekerja di Jepang Digaji di Bawah Lulusan Baru

Gaya kepemimpinan yang disebut quiet leadership ini sering dikaitkan dengan orang introvert atau reflektif. Gaya ini sekarang mulai banyak diapresiasi, terutama di lingkungan kerja yang menekankan rasa aman secara psikologis.

“Pemimpin yang tenang paham bahwa kata-kata dan tindakannya adalah cerminan karakternya,” kata Nadya Ramos, konsultan brand messaging dan marketing di MRK Marketing Consulting.

Menurutnya, keuntungan terbesar dari kepemimpinan yang tenang itu soal kepercayaan. “Karena mereka nggak asal ngomong, begitu mereka bicara, orang langsung mendengarkan.”

Quiet leadership lebih fokus ke pengaruh, bukan performatif. Bukan soal kelihatan sibuk atau paling aktif di diskusi, tapi soal membuat keputusan dengan kepala dingin. Banyak mikir, dan tidak reaktif.

Yang perlu diluruskan juga, kepemimpinan yang tenang bukan berarti pasif atau tipe yang menghindari konflik. Bedanya ada di kepekaan membaca situasi.

Pemimpin seperti ini tahu kapan harus menahan diri, dan kapan harus tegas. Mereka memang jarang bicara, tapi sekali bicara, pesannya jelas. Ada tujuan dan arahnya.

Baca Juga: Ngenes, Gara-gara Email Internal Bocor, Karyawan Jadi Tahu Amazon bakal Mem-PHK 16.000 Orang

Soal ini, riset juga mendukung. Meski budaya korporat sering mengglorifikasi pemimpin yang ekstrovert dan super asertif, studi Harvard Business Review justru menemukan bahwa pemimpin introvert bisa 28% lebih produktif dibandingkan yang ekstrovert.

Psychology Today juga mencatat bahwa tipe pemimpin ini cenderung memberi ruang ke tim, mendorong ide muncul dari mana saja, tanpa merasa harus mendominasi diskusi.

Quiet leadership juga nyambung banget dengan konsep kecerdasan emosional. Pemimpin yang sadar diri dan bisa mengatur emosinya sendiri biasanya lebih jago membangun kekompakan tim dan daya tahan saat kondisi lagi nggak ideal.

“Sebelum bicara, saya selalu tanya ke diri sendiri: ini menambah nilai, atau cuma ingin ikut nimbrung?” ujar Ramos, membagikan refleksi pribadinya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X