Quiet Leadership Jadi Skill Penting di Tahun 2026, Bukti Tak Harus Bersuara Kencang agar Didengar

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Senin, 2 Februari 2026 | 14:54 WIB
Ilustrasi: Quiet leadership bukan berarti pasif atau tipe yang menghindari konflik.  (Freepik/Pressfoto)
Ilustrasi: Quiet leadership bukan berarti pasif atau tipe yang menghindari konflik. (Freepik/Pressfoto)

Menurutnya, momen paling susah buat diam justru saat emosi lagi tinggi. Tapi sering kali, diam itu lebih cepat meredakan situasi dibanding debat terbuka.

Dengan menahan diri, kita bisa menggeser konflik dari reaksi spontan ke obrolan yang lebih privat dan produktif. Di situlah, menurutnya, gaya kepemimpinan yang kuat akan terlihat.

Tetapi tentu saja, diam saja juga bukan kepemimpinan. Kalau terlalu menahan diri sampai arahnya jadi nggak jelas, kepercayaan malah bisa turun.

Quiet leadership baru benar-benar efektif kalau dibarengi tindak lanjut dan ekspektasi yang tegas. Suasana boleh tenang, tapi arah tetap harus jelas. Pemimpin yang baik tetap harus mampu menjelaskan tanggung jawab dan hasil yang diharapkan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Forbes

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X