Risiko tidak main-main, perusahaan seolah menjadi “belajar berjalan” lagi. Dampaknya, perlu re-learning cost (tim harus “belajar ulang”) serta ada kemungkinan meningkatnya kesalahan operasional.
- Turunnya Moral dan Engagement Tim
Ketika ada personel di perusahaan keluar, karyawan yang tersisa mengalami peningkatan beban kerja karena harus ada yang men-take over pekerjaa karyawan yang keluar.
Lalu di kepala karyawan yang tersisa timbul pikiran ketidakpastian dengan perusahaan dan turunnya kepercayaan pada manajemen. Dampak lanjutan yang sangat mungkin terjadi adalah adanya contagion effect (resign berantai).
- Gangguan terhadap Budaya Kerja
Bonding antarkaryawan itu umumnya terbentuk secara alami dan butuh waktu. Ketika ada yang keluar, seolah rantai bonding-nya putus. Ini menyebabkan budaya tidak sempat terbentuk kuat sehingga nilai perusahaan sulit diinternalisasi.
Dampaknya, organisasi menjadi tidak stabil dan kurang kohesif (kompak).
- Penurunan Kualitas Layanan / Produk
Hal-hal yang tersebut di atas sudah pasti akan berakibat pada menurunnya kualitas layanan/produk, terutama pada bisnis yang berbasis layanan (service-intensive).
Misal, customer harus berulang kali berinteraksi dengan orang baru sehingga ada kemungkinan konsistensi layanan menurun. Bagi customer, hal ini menyebalkan dan bisa memutus loyalitas.
Baca Juga: Buat yang Mau Curhat soal Kantor atau Resign, Jepang Punya Bar 'Resign' Biar Nggak Burnout
- Risiko Terhadap Reputasi Perusahaan
Image perusahaan menjadi tidak baik karena employer branding menurun. Ini bisa berdampak pada sulitnya menarik kandidat baru yang berkualitas.
Di era digital, review di platform seperti Glassdoor atau LinkedIn bisa memperburuk citra perusahaan.
- Beban Tambahan pada Manajemen
Karena harus melakukan hiring ulang, training, dan menangani konflik yang terjadi pada karyawan baru, membuat waktu manajer hanya habis untuk hal-hal tersebut. Padahal mestinya manajer yang mestinya fokus pada pekerjaan yang sifatnya lebih strategis dan visioner, menjadi terganggu dengan urusan seperti ini.
- Ketidakstabilan Operasional
Membentuk tim yang solid itu tidak mudah. Ketika anggotanya berubah-ubah, bisa menyebabkan ritme kerja optimal sulit tercapai.
Dampaknya, planning jadi tidak akurat dan eksekusi strategi terganggu.
- Kehilangan Talenta Kunci (Regrettable Turnover)
Ini dampak paling kritis, ketika regrettable turnover, maka perusahaan akan kehilangan karyawan yang high performer. Ini bisa dimanfaatkan oleh competitor.
Efek jangka panjang, daya saing perusahaan menurun.
Artikel Terkait
Awas, Kenali dan Waspadai Tanda-Tanda Lingkungan Kerja Toxic Supaya Kamu Tidak Terjebak di Dalamnya!
Post-holiday Turnover, Resign Setelah Liburan. Apa yang Bisa Dilakukan Karyawan dan Atasan?
Pasal 62 UU Ketenagakerjaan Digugat ke MK, Soroti Praktik “Dipaksa Resign” di Tempat Kerja
Bukan Sekadar Drama Kantor: Hubungan Toksik dengan Atasan Bisa Berdampak pada Kesehatan dan Umur
Resign dari Lingkungan Kerja yang Toxic Bisa Menyelamatkan Mental, Ini Penjelasan Ilmiahnya
Bagaimana Dampak Buruk NPD pada Organisasi Kantor dan Bisa Membuat yang Bertalenta Resign?