PejuangKantoran.com - Bekerja di bawah arahan atasan yang bermasalah sering bikin suasana kantor jadi nggak nyaman. Kita bisa merasakan ada yang nggak beres kalau rekan kerja yang malas tidak pernah ditegur, sementara beban kerja mereka justru dilimpahkan ke kita yang sudah mati-matian menyelesaikan tugas kita sendiri.
Lama-kelamaan, suasana rapat yang harusnya menjadi wadah bertukar ide berubah menjadi ajang formalitas yang sepi. Semua orang memilih diam dan cari aman daripada harus menghadapi respons defensif dari atasan.
Tapi, tantangan terbesarnya adalah tahu kapan atasan kamu cuma lagi kebanyakan tugas, dan kapan mereka benar-benar butuh pelatihan leadership untuk jadi pemimpin.
Baca Juga: Pemerintah Australia Menghentikan Pendaftaran Kampus Swasta untuk Mahasiswa Internasional
Kalau atasan di tim kamu menunjukkan lima tanda berikut, artinya masalah mereka bukan lagi kurangnya wawasan atau pelatihan, melainkan perilaku mereka saat berada di bawah tekanan:
Membiarkan karyawan yang berkinerja buruk
Banyak bos yang tahu ada anak buahnya yang kerjanya berantakan, tapi tetap mempertahankannya dengan seribu alasan. Mulai dari alasan "dia orang lama" sampai "dia lagi ada masalah pribadi."
Perilaku ini bisa menghancurkan kredibilitas si bos di mata tim. Akibatnya, karyawan yang kerjanya bagus akan merasa lelah karena harus menanggung beban kerja ekstra, lalu memilih untuk resign.
Karyawan berprestasi mengalami burnout
Ini adalah tanda yang paling sering disadari oleh tim HR melalui data. Saat seorang pemimpin tidak tegas pada staf yang malas, pekerjaan itu tidak hilang begitu saja. Tugas-tugas tersebut biasanya langsung dilempar ke anak buah yang paling bisa diandalkan.
Baca Juga: Sempat Sepi Peminat, Gimana Sih Cara Mengajukan Permohonan Global Citizenship of Indonesia?
Akibatnya, karyawan andalan justru mengalami kelelahan mental (burnout) karena harus mengerjakan dua pekerjaan sekaligus.
Tidak ada anggota tim yang naik jabatan
Coba cek rekam jejak tim mereka dalam tiga tahun terakhir. Apakah ada anak buahnya yang benar-benar naik jabatan ke level eksekutif? Jika zonk, ini adalah lampu kuning.
Bos tipe ini biasanya hanya fokus pada hasil kerja jangka pendek, tapi lupa mencetak pemimpin yang siap menjalankan tugas di masa depan. Mereka merasa sudah membimbing, padahal aslinya mereka sedang melakukan micromanage (terlalu ikut campur urusan detail anak buah).
Artikel Terkait
Lowongan Kerja Office & Executive Coordination Associate Dibuka di Bali
Contoh Jawaban dalam Bahasa Inggris ketika Ditanya, 'Kapan Bisa Mulai Bekerja?' usai Wawancara Kerja
7 Alasan Mengapa Timeline Itu Penting dalam Sebuah Proyek yang Wajib Diketahui oleh Project Manager
Lari "Melawan Arah" Itu Lebih Aman Bagi Pelari dan Pengguna Jalan Raya Lainnya. Simak Alasannya!
'Nobody Loves Kay', Kisah Gamer Muda yang Mengejar Mimpi Jadi Atlet e-Sport Profesional
Standard Chartered akan Memangkas Ribuan Karyawan Seiring Meningkatnya Penggunaan AI
Jangan Remehkan Asupan Nurisi Setelah Lari, karena Bisa Membuat Peforma Larimu Stagnan!