PejuangKantoran.com - Untung ya, di dunia ini selalu ada lembaga riset yang melakukan studi atau survei mengenai apapun. Jadi, kita jadi tahu apa yang harus kita lakukan setelah mendapat insight dari survei tersebut.
Di dunia kerja, misalnya, The Resume Genius 2026 Job Seeker Insights Report baru saja melaporkan bahwa lebih dari 55% pencari kerja frustrasi karena lamaran kerja mereka nggak pernah direspons. Kemudian, 49% responden bahkan merasa proses mencari pekerjaan itu sudah mengganggu kesehatan mental mereka.
Gimana nggak stres, sekarang ini 93% rekruter sudah memakai Applicant Tracking System (ATS). Sistem ini memang dipakai untuk menyederhanakan proses perekrutan, tapi plus-minusnya juga selalu ada.
Baca Juga: Lewat Beasiswa NL Scholarship 2026, Kamu Berpeluang Mendapat Dana €5.000 untuk Kuliah di Belanda
Nah, anggap saja kamu sudah lolos tahap awal dan berhasil melewati sistem ATS. Setelah itu kamu masih harus melalui tahap yang lebih menantang, yaitu bersaing dengan ribuan kandidat lain yang mengincar posisi yang sama.
Berdasarkan studi InterviewPal tahun 2025 terhadap 4.289 resume dari 312 rekruter dan manajer HR, 72% dari rekruter hanya butuh kurang dari dua menit untuk membaca sebuah CV sebelum memutuskan apakah kandidat tersebut layak diproses atau tidak.
Bahkan, rata-rata waktu pemindaian awal ternyata hanya berlangsung 11,2 detik!
Lalu bagaimana supaya CV kita direspons oleh rekruter? Haruskah kita mengirim ratusan lamaran kerja seperti yang pernah disarankan?
Nanti dulu, baca trik agar lamaran kerja lolos ATS:
• Buruan apply begitu melihat ada lowongan yang cocok. Jangan menunggu kamu ada mood. Atur notifikasi pada LinkedIn untuk pekerjaan dan perusahaan yang bakal cocok buat kamu. Begitu lowongan kerja tersebut muncul, langsung submit surat lamaran (cover letter) dan CV kamu.
Baca Juga: Screen Fatigue, Penyakit Ini Umum Menimpa Pekerja Kantoran Modern Seperti Kamu
• Baca setiap job description dengan teliti, lalu tiru bahasa yang digunakan rekruter pada CV kamu. Jika lowongan kerjanya menyebutkan “cross-functional collaboration”, gunakan terminologi tersebut pada CV. Jangan menggantinya dengan “teamwork”.
• Buat surat lamaran yang fokus pada misi perusahaan yang kamu incar. Pastikan CV dan lamaranmu sudah disesuaikan untuk menunjukkan kamu kandidat yang paling pas dengan posisi tersebut, sekaligus cocok dengan budaya kerjanya.
• Pastikan kamu memenuhi setidaknya 80% dari kualifikasi yang diminta. Tidak perlu memaksakan diri mengejar posisi di luar kemampuanmu saat ini, karena hanya akan membuang waktu dan tenaga. Namun dengan melihat persyaratan yang diminta, kamu bisa selalu upskilling (memperdalam keterampilan) dan reskilling (menambah keterampilan baru) untuk melamar lagi di lain waktu.
• Hindari copy-paste resume kamu. Buat cover letter dan CV/resume yang dibuat khusus untuk setiap lowongan kerja yang kamu apply. Lakukan riset, dan sesuaikan CV kamu dengan gaya perusahaan yang kamu tuju.
Artikel Terkait
Program Uni Eropa–ASEAN Buka Lowongan Senior Programme Manager di Jakarta, Simak Syaratnya
'Monster Pabrik Rambut' Digarap Keroyokan bareng Singapura, Jepang, Jerman, dan Perancis
5 Hal Mengapa Padel Menjadi Salah Satu Olahraga Gen-Z yang Cocok Dimainkan Bareng Rekan Kerja Sepulang Aktivitas Kantor
Berkenalan Dengan Agentic AI. Versi Advance dari Generative AI yang Kita Kenal Sebelumya
Sering Pegal Leher dan Lower Back Pain? Kemungkinan Itu Gejala MSP yang Umum Terjadi Pada Pekerja Kantoran
7 Aplikasi To-Do List iPhone Terbaik buat Gen Z: Edisi Gratis & Anti-Ribet!
Apakah Agentic AI Akan Menggantikan Gen-Z yang Mendominasi Pekerjaan di Sektor Digital, Kreatif dan Administrasi?