9 Alasan Mengapa Karyawan Terbaik Justru Paling Sering Merasa Frustrasi di Kantor

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Rabu, 17 Juni 2026 | 14:07 WIB
Ilustrasi: Di balik hasil kerjanya yang terkesan effortless, ternyata karyawan terbaik sering merasa frustrasi. (Freepik/Kamran Aydinov)
Ilustrasi: Di balik hasil kerjanya yang terkesan effortless, ternyata karyawan terbaik sering merasa frustrasi. (Freepik/Kamran Aydinov)

PejuangKantoran.com - Kalau membahas karyawan terbaik di kantor, biasanya kita mengira mereka orang-orang yang rajin, produktif, dan bisa diandalkan. Mereka memang udah jago dari sononya, sehingga nggak ada effort untuk mengerjakan tugas-tugas berat.

Tapi di balik hasil kerja mereka yang rapi dan tepat waktu, ternyata ada rasa frustrasi yang nggak kelihatan. Justru karena effort khusus yang mereka lakukan, maka hasil kerja mereka sangat baik.

Akibatnya, karyawan terbaik justru yang paling sering merasa kelelahan atau frustrasi. Mereka sering dibikin kesal, hanya saja mereka tidak mengungkapkannya. Mengapa bisa begitu?

Baca Juga: Spotify Bakal Hapus Login Pakai Username Akhir Tahun Ini, Lalu Bagaimana Cara Masuk ke Aplikasi?

Tanggung jawab lebih besar dari jabatan
Mereka sering diminta mengerjakan hal-hal di luar job description. Namun, kompensasi atau apresiasi yang didapat jarang sebanding dengan beban kerja tambahan itu.

Mereka sadar ada banyak hal yang nggak efisien
Misalnya, sistem yang ketinggalan zaman, sampai kebijakan manajemen yang nggak relevan. Ketika masalah ini nggak ditangani, pekerjaan mereka jadi makin berat.

Sulit benar-benar lepas dari kerjaan
Karena hasil kerjanya bagus, mereka jadi sering diminta lembur atau bawa pulang pekerjaan. Tanpa  istirahat yang cukup, nggak heran mereka sering jadi burnout.

Sering diganggu saat berusaha konsentrasi
Bukan karena kerjanya lama, tapi mereka sering ditarik untuk membantu hal lain. Akibatnya, pekerjaan utama jadi tertunda.

Kebanyakan meeting
Banyak rapat yang sebenarnya bisa diganti email. Karena harus sering meeting, waktu produktif mereka terbuang. Alhasil, frustrasi pun bertambah.

Dituntut atas hasil kerja tim
Meski bukan manajer, karyawan terbaik sering dianggap bertanggung jawab atas performa rekan kerja. Kalau tim gagal, mereka ikut kena imbasnya.

Baca Juga: 7 Manfaat One-on-One Meeting Jika Rutin Dilakukan dengan Atasan di Tempat Kerja

Jarang dapat dukungan
Karena dianggap pintar dan bisa segalanya, manajer jarang mau membantu. Malahan, mereka jadi sering diminta untuk membantu rekan kerjanya. Padahal semua orang tetap butuh arahan.

Kurang diapresiasi
Karena hasil kerja terlihat effortless, orang lain mengira karyawan ini mudah saja melakukannya. Padahal ada banyak energi dan pikiran yang tergerus.

Melihat jelas kekurangan manajemen
Mereka bisa langsung sadar kalau kepemimpinan kurang solid. Dan itu biasanya berdampak langsung ke beban kerja mereka.

Melihat berbagai penyebab di atas, kita jadi tahu bahwa karyawan terbaik sering kali jadi yang paling frustrasi karena mereka menanggung beban lebih besar tanpa dukungan yang sepadan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: Your Tango

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X