PejuangKantoran.com - Belanda kerap menjadi rujukan ketika membahas keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Negara ini dikenal memiliki budaya kerja yang lebih fleksibel dibanding banyak negara lain di Eropa. Tak heran jika Belanda kembali menempati posisi sebagai negara dengan rata-rata jam kerja mingguan terpendek di kawasan Uni Eropa.
Namun, anggapan bahwa masyarakat Belanda hanya bekerja sekitar 30 jam per minggu sering kali disalahartikan. Di balik angka tersebut, terdapat budaya kerja dan kebijakan ketenagakerjaan yang telah berkembang selama puluhan tahun.
Menurut data resmi Eurostat yang dirilis pada 2026 berdasarkan kondisi tahun 2025, rata-rata jam kerja aktual pekerja berusia 20–64 tahun di Belanda mencapai 31,9 jam per minggu. Angka ini merupakan yang terendah di antara seluruh negara anggota Uni Eropa, jauh di bawah rata-rata Uni Eropa yang mencapai 35,9 jam per minggu.
Baca Juga: Inilah Kota Paling Layak Huni di Dunia 2026: Copenhagen Pertahankan Posisi Puncak
Sebagai perbandingan, rata-rata jam kerja di Denmark dan Jerman masing-masing mencapai 33,9 jam per minggu, sementara Austria berada di angka 34 jam.
Meski demikian, bukan berarti seluruh pekerja di Belanda hanya bekerja sekitar empat hari dalam seminggu. Data tersebut merupakan rata-rata yang menggabungkan pekerja penuh waktu dan paruh waktu.
Negara dengan "Raja" Pekerja Paruh Waktu
Salah satu alasan utama rendahnya rata-rata jam kerja di Belanda adalah tingginya jumlah pekerja paruh waktu.
Menurut Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), Belanda memiliki salah satu tingkat pekerja part-time tertinggi di dunia. Bekerja selama 24 hingga 32 jam per minggu merupakan hal yang umum, terutama bagi orang tua yang memiliki anak kecil. Namun tren ini kini juga semakin banyak diikuti pekerja laki-laki maupun profesional muda.
Yang menarik, status pekerja paruh waktu di Belanda tidak selalu identik dengan pekerjaan bergaji rendah atau minim jenjang karier. Banyak profesional di sektor pendidikan, kesehatan, pemerintahan, hingga perusahaan multinasional memilih mengurangi jam kerja demi memiliki waktu lebih banyak bersama keluarga atau menjalani aktivitas pribadi.
Produktivitas Tetap Tinggi
Jam kerja yang lebih singkat ternyata tidak membuat produktivitas menurun.
Sebaliknya, berbagai studi OECD menunjukkan Belanda termasuk salah satu negara dengan produktivitas per jam kerja yang tinggi. Artinya, nilai ekonomi yang dihasilkan setiap jam kerja relatif lebih besar dibanding banyak negara lain.
Model ini didukung oleh budaya kerja yang menekankan efisiensi dibanding lamanya waktu berada di kantor. Pertemuan yang lebih singkat, pengambilan keputusan yang cepat, serta fleksibilitas dalam mengatur jam kerja menjadi bagian dari praktik kerja sehari-hari.
Banyak perusahaan juga menerapkan sistem kerja hibrida dan memberikan keleluasaan bagi karyawan untuk menyesuaikan jadwal kerja selama target pekerjaan tetap tercapai.
Baca Juga: Pikiran Lagi Mentok? Jangan Dipaksa, Ide Kreatif Justru Sering Muncul kalau Kita Lagi Santai
Artikel Terkait
Orang yang Benar-Benar Bahagia Punya 3 Kebiasaan Ini Saat Hari Senin
Pikiran Lagi Mentok? Jangan Dipaksa, Ide Kreatif Justru Sering Muncul kalau Kita Lagi Santai
Mengapa Warren Buffett Menyebutkan Bahwa Integritas Penting? Berikut Cara Menumbuhkannya!
Membangun Komunitas Itu Nggak Bisa Instan, tapi Banyak Caranya. Salah Satunya, Manfaatkan UGC!
4 Kebiasaan Pagi yang Sering Dilakukan Orang Sukses, Worth To Try!
Burnout Bukan Lagi Masalah Pribadi, Tapi Ancaman Produktivitas Perusahaan
Bahagia di Tempat Kerja, Tapi Burnout? Ini Paradoks yang Dialami Banyak Pekerja Indonesia
10 Values Personal yang Dianggap Penting dalam Dunia Kerja yang Wajib Kamu Pahami dan Terapkan!
Naik Gaji Tapi Kok Nggak Terasa Perubahannya? Ini yang Lagi Terjadi di Accenture dan Deloitte
Mengenal Competency-Based Interviews, Fresh Graduate Wajib Tahu buat Persiapan Wawancara Kerja