PejuangKantoran.com - Saat ini, para rekruter di HRD menyadari banget bahwa sejumlah besar pelamar menggunakan tools AI seperti ChatGPT untuk menyusun resume.
Namun, tidak semua rekruter tahu bagaimana cara mengantisipasi peningkatan volume pelamar yang tidak memenuhi syarat.
Banyaknya tools yang bermunculan untuk membantu calon karyawan tampak lebih terampil daripada yang sebenarnya, membuat proses ini jadi lebih sulit dari sebelumnya.
Baca Juga: Cara Menggunakan ChatGPT untuk Menulis Resume Lamaran Kerja, Mau Coba?
Nah, kalau kamu di sini bertindak sebagai rekruter, ada beberapa tanda pelamar menggunakan AI untuk menyusun resume. Plus, apa strategi untuk mengurangi risiko kesalahan merekrut karyawan baru.
Tanda-tanda pelamar memakai AI untuk menyusun resume
Bagaimana cara mengidentifikasi resume ChatGPT yang dibuat dengan kurang mulus?
Pertama, jika resume tersebut secara langsung mencerminkan permintaan dalam deskripsi pekerjaan tanpa sentuhan pribadi, besar kemungkinan resume tersebut dibuat dengan menggunakan ChatGPT.
Kedua, kalau resume yang kamu terima menampilkan gaya penulisan yang sama sekali berbeda dari materi aplikasi lainnya, kemungkinan besar pelamar menggunakan ChatGPT (atau tools serupa lainnya) untuk menyusunnya.
Ketiga, kalau kamu melihat resume yang sepertinya tidak asing, misalnya dua resume yang hampir identik, kemungkinan besar resume tersebut merupakan hasil olahan ChatGPT. Dan, sejujurnya, kebohongan sedang terjadi.
Baca Juga: Kesalahan pada CV yang akan Membuat Lamaran Kamu Langsung Ditolak oleh Pemberi Kerja
Perlu kamu ketahui, ketika ChatGPT tidak dapat menemukan titik acuan, aplikasi ini bisa mengarang “fakta” dengan cukup meyakinkan. Informasi yang tidak akurat atau salah adalah hal yang wajar untuk masalah ini dan kamu harus peka untuk menemukannya.
Keempat, ChatGPT dirancang untuk mengolah informasi yang beredar di internet sebelum tahun 2021. Jadi kalau kamu mencari jabatan atau posisi yang lebih baru, ChatGPT mungkin tidak sepenuhnya memahami konteks dan nuansa pengalaman kerja, pencapaian, dan tujuan karier yang diperlukan.
Beberapa peringatan lain yang harus diwaspadai adalah ungkapan yang terlalu umum, format yang terlihat aneh, dan bahasa yang diulang-ulang.
Strategi untuk mengurangi risiko kesalahan merekrut karyawan
Artikel Terkait
2 Beasiswa ke Australia dan Thailand yang Akan Tutup Juli Ini. Yuk, Jangan Sampai Ketinggalan!
25 Contoh Cara Hidup Hemat yang Mudah Kamu Coba Agar Bisa Menabung! (Bagian 1)
Aduh, Wangi Sabun Mandi Kamu Ternyata Bisa Bikin Kamu Digigit Nyamuk!
25 Contoh Gaya Hidup Frugal Living yang Mudah Kamu Coba Agar Bisa Menabung! (Bagian 2)
3 Fakta Series “Cinta Dua Masa” yang Bikin Seru Ditonton (Selain Faktor Dikta dan Prilly)
Tarif Uji Coba LRT Jabodebek Hanya Rp1, Berapa Tarif LRT yang Resmi saat Sudah Beroperasi?