Buat Para Bos, Ini 5 Cara Agar Karyawan Tidak Memilih Quiet Quitting saat Bekerja

photo author
Felicitas Harmandini, Pejuang Kantoran
- Jumat, 11 Agustus 2023 | 11:55 WIB
Ilustrasi: Kebanyakan bos mengira, quiet quitting disebabkan karyawan punya sifat pemalas. (Freepik)
Ilustrasi: Kebanyakan bos mengira, quiet quitting disebabkan karyawan punya sifat pemalas. (Freepik)

Selain itu, penting juga bagi karyawan untuk mendengar umpan balik dari manajemen atau pemimpinnya.

2. Demokrasikan pengambilan keputusan

Berikan tanggung jawab keputusan sehari-hari kepada karyawan yang paling dekat dengan pekerjaan dan berinteraksi langsung dengan klien dan pelanggan.

Karyawan akan lebih terlibat di tempat kerja dan berpartisipasi aktif ketika diberikan tingkat kepercayaan seperti ini. Akibatnya, kolaborasi antara pemimpin dan karyawan tercipta, kepercayaan mulai terjaga, dan produktivitas meningkat.

Pertimbangkan meninjau proyek yang akan dikerjakan sebagai tim serta menugaskan tanggung jawab dengan menggunakan bagan RACI (responsible, accountable, consulted, dan informed).

Dengan bagan ini, peran dan tanggung jawab karyawan untuk setiap tugas, pencapaian, dan keputusan yang terjadi di seluruh proyek menjadi lebih jelas.

Baca Juga: Hampir 1 dari 5 Karyawan Melakukan Loud Quitting di Tempat Kerja, Apa sih Maksudnya?

3. Beri tugas yang sesuai keterampilan dan tujuan karyawan

Cara yang baik untuk menghindari karyawan yang merasa tidak terlibat dengan perusahaannya adalah dengan memberikan tugas yang sesuai keterampilan, minat, atau tujuan karirnya.

Saat ini, banyak karyawan yang terpengaruh oleh ambiguitas peran. Setiap pekerjaan harus memiliki tanggung jawab yang jelas, hasil yang diinginkan, dan pos pemeriksaan di sepanjang jalan.

Dengan begitu, semangat karyawan dapat menyala lagi, dan kepercayaan dirinya meningkat.

4. Investasikan pengembangan profesional karyawan

Jalan karyawan menuju pertumbuhan karir terkadang terhalang oleh kurangnya kualifikasi untuk pekerjaan atau promosi tertentu. Pastikan setiap orang dalam tim memiliki kesempatan untuk mengikuti kursus sesuai minatnya.

Karyawan lebih cenderung quiet quitting jika melihat masa depannya di perusahaan tersebut tidak jelas.

Pelatihan yang diberikan juga harus disesuaikan untuk setiap karyawan berdasarkan peran, level, dan aspirasi karirnya.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Felicitas Harmandini

Sumber: QUARTZ

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X