Lingkungan kerja yang toxic ditandai dengan pelecehan, penindasan, atau budaya ketakutan dan permusuhan sehingga membuat karyawan tak sanggup lagi bertahan.
“Karyawan meninggalkan perusahaan dengan masalah yang belum terselesaikan karena berbagai alasan,” kata Ganesh S, Global Chief Human Resources Officer dari perusahaan edtech Emeritus.
Baca Juga: Tantang AS Jadi Pusat AI Dunia, Malta Ternyata Punya Lebih Banyak Startup AI Per Kapita
“Banyak di antaranya saling berhubungan dan berdampak signifikan terhadap kepuasan kerja dan kesejahteraan mereka secara umum.”
Mayoritas dari alasan tersebut terkait dengan bagaimana anggota tim diperlakukan oleh karyawan atau atasan mereka.
Karyawan yang keluar biasanya menyebutkan kompensasi yang tidak kompetitif, kurangnya peluang pertumbuhan, dan kurangnya penghargaan/pengakuan sebagai alasan eksternal untuk melakukan loud quitting.
Namun, ciri-ciri manajer tim seperti lingkungan kerja yang toxic, kurangnya komunikasi/transparansi, dan ketidakamanan dalam pekerjaan menjadi alasan sesungguhnya mengapa karyawan keluar.
3. Kurangnya peluang untuk maju
Terbatasnya ruang lingkup pertumbuhan profesional dan pengembangan keterampilan dapat mendorong karyawan untuk berhenti bekerja.
Baca Juga: Raih 2 Juta Penonton, Ini Penyebab How To Make Millions Before Grandma Dies Relate dengan Indonesia
Karyawan yang merasa terjebak dalam pekerjaan, yang hanya punya sedikit peluang untuk maju atau berkembang, mungkin memilih untuk berhenti secara tiba-tiba karena merasa mentok.
4. Kepemimpinan yang buruk
Kepemimpinan yang tidak efektif atau tidak mendukung karyawan dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pengunduran diri secara besar-besaran.
Karyawan yang mudah menyerah sering kali melampiaskan frustrasinya terhadap gaya kepemimpinan, kurangnya komunikasi, atau anggapan bahwa pimpinan kerap pilih kasih.