Dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini kepada rekruter, kamu bisa mendapatkan gambaran yang lebih jelas mengenai apa kebutuhan perusahaan, dan bagaimana kamu bisa menjual keahlian untuk mengisi posisi tersebut.
Misalnya, jika mereka mencari seseorang yang dapat mengurangi konflik atau bekerja secara mandiri, kamu bisa menonjolkan pengalaman diri untuk menunjukkan bahwa kamu adalah solusinya.
Baca Juga: Marissa Haque Meninggal Puluhan Ribu Ucapan Duka Disampaikan Lewat Instagram Chiki Fawzi Anaknya
Jangan takut “jual mahal”
Jika kamu sudah menyusun pertanyaan yang tepat saat wawancara kerja, Goefft dan beberapa pakar karir menyarankan strategi sales yang lain, yaitu berikan kesan bahwa kamu bisa saja tidak menerima tawaran kerja dari mereka.
“Manusia secara psikologis mengasosiasikan kelangkaan dengan kualitas. Ketika kita melihat sesuatu yang banyak diminati dengan harga tinggi, kita berasumsi bahwa itu adalah kualitas yang lebih baik,” jelasnya.
Perusahaan dan perekrut pasti ingin merekrut “talenta terbaik” dari para pelamar. Maka, tugas kamu adalah masuk ke ruang wawancara dengan keyakinan bahwa kamu termasuk dalam kategori tersebut.
Jika kamu bisa menunjukkan kepada pewawancara bahwa kamu kandidat yang tepat untuk perusahaannya, tetapi memberi kesan kamu bisa saja tidak memilih mereka, bisa dipastikan kamu akan menjadi kandidat terbaik. (Elga Windasari)