Strategi penjualan tidak up to date
Menurut para ahli ekonomi, masalah utama dari bangkrutnya Tupperware ini adalah model bisnis yang sulit bersaing di era digital seperti sekarang.
Sejak awal, Tupperware di Amerika Serikat memperkenalkan Tupperware Home Party, atau yang dikenal dengan Tupperware Party, sebagai salah satu cara penjualan mereka yang unik, informatif dan menghibur.
Saat dijual di Indonesia, strategi penjualan ini lalu diadaptasi menjadi arisan Tupperware. Jadi, tidak heran jika mayoritas pelanggan merek tersebut dari kalangan ibu-ibu.
Baca Juga: Anya Geraldine Merasa Punya Banyak Kesamaan dengan Naya di Mendadak Dangdut
Selain Tupperware Party, pemasaran berjenjang atau MLM juga menjadi andalan pemasaran produk ini. Bahkan, MLM Tupperware menjadi salah satu pemain terbesar dan terlama di Indonesia.
Sayangnya, strategi penjualan tersebut sudah tidak lagi cocok dengan zaman sekarang. Banyak konsumen yang tidak lagi tertarik dan lebih suka berbelanja secara online melalui platform e-commerce.
Jadi, karena Tupperware resmi ditutup, jaga koleksi lunchbox dan tumbler kamu dengan sepenuh hati, ya. Kalau hilang, kamu sudah tidak bisa mendapatkan gantinya lagi. (Elga Windasari)